lahan bulog

30 Tahun Ditempati, Lahan Seluas 3.700 Meter Persegi Milik Bulog Tiba-tiba Digugat

Posted on

Perusahaan Umum (Perum) BULOG melalui Kuasa Hukumnya mengajukan permohonan banding menyusul Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara terkait Hak Atas Tanah yang saat ini diduduki BULOG di Kawasan Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara.

“Saat ini Perum BULOG sedang selesaikan PR tentang hukum untuk pengelolaan sebagian tanah di bagian jakarta tepatnya Perum BULOG regional DKI (Jakarta) dan Banten,” kata Direktur SDM dan Umum Perusahaan Perum BULOG, Wahyu Suparyono di kantornya, Senin (25/9/2017).

Selaku Kuasa Hukum BULOG, Yusril Ihza Mahendra mengatakan bahwa Hak Atas Tanah yang diduduk BULOG saat ini di Kelapa Gading Barat disengketakan oleh Tan Heng Lok.

Orang terdekat mengklaim bahwa tanah yang ditempati BULOG merupakan miliknya. Keputusan hakim mengenai persoalan tersebut dinyatakan dalam Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara Nomor 564.PDT.G/2015.PN.Jkt-Utr Tanggal 24 Januari 2014.

“30 tahun lamanya tidak ada pihak yang ganggu gugat, namun tiba-tiba ada seseorang Tan Heng Lok, pekerja swasta, alamat jalan Kepa Duri Mas Blog NN/15 RT 01/04, Kelurahan Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, mengklaim sebagai pemilik atas tanah,” jelas Yusril.

Pihaknya masih mempertanyakan, keabsahan gugatan dari pihak Tan Heng Lok. Sebab, kata Yusril, banyak kasus hukum yang ternyata penggugatnya tidak jelas keberadaannya.

Maka, pihaknya mengajukan Akta Pernyataan Permohonan Banding Nomor 564/PDT.G/2015/PN/Jkt-Utr Tanggal 30 Januari 2017.

“Apakah dia betul-betul manusia konkret atau fiksi. Sering kami temui orang tidak muncul tapi memberikan kuasa. Setelah dicek yang bersangkutan itu misterius yang mungkin tidak ada dalam data kependudukan,” ujarnya.

Dia menambahkan, upaya umum banding ini dimaksudkan untuk mempertahankan dan menyelamatkan aset Perum BULOG, berupa tanah seluas sekira 502 meter per segi dengan sertifikat Hak Pakai No. 5/Kelurahan Kelapa Gading Barat Tanggal 30 Desember 1993 dan tanah seluas 3.765 meter per segi dengan sertifikat Hak Pakai No. 6/Kelurahan Kelapa Gading Barat Tanggal 11 Oktober 1994. Sementara, BULOG sudah menempati tanah tersebut sejak 1973.

BULOG Siap Pidanakan Hakim dan Saksi Palsu

Perum BULOG menduga kekalahannya dalam sengketa tanah di Kelapa Gading, Jakarta Utara karena ada akrobatik pertimbangan hukum.

Itu sebabnya BULOG melakukan banding dan meminta pengadilan tinggi untuk memeriksa berkas perkara. BULOG juga siap memidanakan saksi yang diduga bersaksi palsu dalam sidang di PN Jakarta Utara, termasuk hakimnya.

Penegasan itu disampaikan Direktur SDM dan Umum Perum BULOG Wahyu Suparyono, di Jakarta, Senin (25/9). Saat itu Wahyu didampingi kuasa hukumnya, Yusril Ihza Mahendra dan Agus Dwiwarsono.

“Kami tidak main-main dan menunggu hasil pendalaman dari kuasa hukum. Jika memang dugaan tersebut (saksi dan hakim memainkan sidang) kami akan pidanakan,” ujarnya.

Terkait hal itu Agus Dwiwarsono menambahkan, pihaknya akan mendalami soal dugaan tersebut. Sementara ini, pihaknya menilai majelis hakim PN Jakarta Pusat atau tingkat pertama melakukan akrobatik pertimbangan hukum. Sebab bukti surat-surat, keterangan saksi-saksi sebagai fakta persidangan dan fakta hukum diabaikan oleh Majelis Hakim.

“Kita meminta Pengadilan Tinggi untuk memeriksa ulang terhadap saksi yang sudah diperiksa oleh PN Jakarta Utara dan juga melakukan pemeriksaan ulang atas tanah obyek perkara,” imbuh Agus.

Sementara itu, Yusril Ihza Mahendra mengatakan bahwa hak atas tanah yang diduduk BULOG saat ini di Kelapa Gading Barat disengketakan oleh Tan Heng Lok. Orang terdekat mengklaim bahwa tanah yang ditempati BULOG merupakan miliknya.

Keputusan hakim mengenai persoalan tersebut dinyatakan dalam Putusan PN Jakarta Utara Nomor 564.PDT.G/2015.PN.Jkt-Utr tanggal 24 Januari 2017, yang membatalkan sertifikat hak pakai Perum BULOG.

Pihaknya, ungkap Yusril, memiliki bukti baru sebagai tambahan bukti yang ada. Di antaranya, surat Kelurahan Kelapa Gading Timur yang menyatakan buku letter C (girik) tidak ada pada mereka. Surat unit pelayanan pajak dan retribusi Kelapa Gading DKI Jakarta menyatakan Iuran Pembangunan Daerah (IPEDA) Letter C/Girik no.783 S.II Kohir atas nama kiman bin Riban tidak pernah ada.

“Kesaksian Lilis Asnawati, mantan lurah disaat Girik/Letter C itu keluar pada 2014 tegas bilang tidak pernah melihat adanya buku girik tersebut. Itu diabaikan majelis hakim. Ini lucu,” ujar Yusril.

Perkara ini, menurut Yusril, sebetulnya tidak bisa diperkarakan lagi karena tanah itu kepemilikan BULOG sudah 30 tahun. Dalam hukum itu jika harta benda sudah dimiliki seseorang lebih 20 tahun tanpa ada gugatan pihak lain, kepemilikan barang itu sah dan yang bersangkutan tidak perlu membuktikan dia sah memilikinya.

Sumber berita : Portal berita okezone dan liputan6

One thought on “30 Tahun Ditempati, Lahan Seluas 3.700 Meter Persegi Milik Bulog Tiba-tiba Digugat

  1. Dengan mengucap Bismillahirrohmanirrohiim, Maju terus pantang mundur Pak Yusril dan Pak Wahyu Suparyono.. Jangan biarkan aset BULOG diklaim begitu saja oleh Pihak Lain..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *