kantor-bulog

Beras Gonjang-Ganjing, BULOG Tetap Fokus Jalankan Tugas

Posted on

Di tengah gonjang-ganjing polemik beras yang tengah terjadi saat ini, Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum BULOG) mengaku tidak terpengaruh dan tetap menjalankan tugas pokok dan fungsi mereka sebagai tangan kanan pemerintah dalam menjaga pasokan dan menstabilkan harga komoditas pangan utama, khususnya beras.

Direktur Pengadaan Perum BULOG Tri Wahyudi Saleh mengatakan pihaknya masih terus melakukan penyerapan gabah sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pengadaan Beras/Gabah dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah.

Di dalam inpres itu disebutkan Perum BULOG diembani tugas untuk melakukan pembelian gabah kering panen (GKP) dengan kualitas kadar air maksimum 25% dan kadar kotoran 10% dengan harga yang telah ditetapkan yakni Rp3.700 per kilogram (kg) di tingkat petani.

“Kami tetap melakukan penyerapan. Saat ini di beberapa daerah seperti di Sidrap, Parepare, Makassar (Sulawesi Selatan) dan Banyuwangi (Jawa Timur) masih akan ada panen. Kami terus bekerja sampai sekarang,” ujar Tri kepada Media Indonesia, Kamis (27/7).

Hingga saat ini, BULOG telah melakukan serapan gabah dari petani sebanyak 1,5 juta ton atau 40% dari target yang dicanangkan untuk 2017 yakni 3,7 juta ton. Total persediaan saat ini disebutkan mencapai 1,7 juta ton.

Bahkan, jika harga beras tiba-tiba melambung di pasaran akibat persoalan yang terjadi akhir-akhir ini, ia memastikan BULOG siap untuk melakukan stabilisasi dengan mengguyur pasar menggunakan persediaan yang sekarang dimiliki.

Kendati demikian, ia mengungkapkan BULOG tidak memiliki kepentingan atau kewenangan dalam mengomentari persoalan beras yang terjadi pada saat ini.

Jika ada pihak-pihak yang mampu membeli harga gabah di atas harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp3.700, menurut Tri, itu adalah hal yang sah saja. Ia pun mengakui harga gabah di pasaran saat ini memang cukup tinggi di kisaran Rp4.000 hingga Rp4.600 per kg.

Namun, sebagaimana peraturan yang telah ditetapkan, untuk memenuhi kebutuhan cadangan beras pemerintah (CBP) dan beras sejahtera, BULOG hanya bisa melakukan serapan sesuai dengan harga yang tertera di dalam Inpres.

“Sebenarnya BULOG juga membeli gabah di atas harga Rp3.700, tetapi itu tidak banyak dan hanya untuk rencana kerja komersil,” tuturnya.

Terkait harga acuan yang ditetapkan pemerintah terhadap beberapa komoditas pangan, menurut pandangan pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto, pada prinsipnya itu hanya merupakan harga referensi.

Jika ingin menetapkan harga patokan, seperti harga eceran tertinggi (HET), pemerintah harus terlebih dulu memiliki instrumen seperti badan penyangga pangan dan stok cadangan.

Dalam hal tersebut peran Perum BULOG dituntut sangat besar. Sementara, ia menilai peran BULOG sendiri saat ini belum maksimal karena harus menjalankan penugasan pemerintah tetapi di sisi lain harus mendapatkan profit sebagai perusahaan.

“Pada akhirnya BULOG tidak mampu fokus untuk menjaga tugas utamanya yakni menjaga persediaan dan kestabilan harga,” katanya.

Eko menyebutkan memang harus ada pembagian klasifikasi antara produk yang nantinya akan dijadikan sebagai beras medium dan premium.

Ia menyebutkan BULOG bisa saja fokus untuk melakukan produksi di beras medium sesuai dengan klasifikasi yang ditetapkan di dalam Inpres, sementara untuk sektor premium diserahkan kepada perusahaan-perusahaan yang memang mumpuni, baik dari biaya dan teknologi.

Pemerintah, lanjutnya, bersama Komisi Pengawasan Persaingan Usaha, tinggal menciptakan regulasi dalam menjaga kondisi persaingan sehat dan adil. Itu pun tidak bisa dilakukan dengan instan dan menggunakan sistem komando.

“Pemerintahan harus dapat menciptakan harmonisasi dalam sistem produksi dan distribusi yang sehat mulai dari hulu hingga ke hilir karena upaya menghilangkan disparitas harga yang tinggi tidak akan efektif jika hanya dilakukan dengan mengatur besarnya margin perdagangan,” tukasnya.

Sumber : Media Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *