Beras Sachet, Ironi atau Solusi?

Keterjangkauan pangan berbicara mengenai kemampuan masyarakat mengakses atau mendapatkan bahan pangan. Sehingga dalam keterjangkauan ini bukan hanya sekedar harga yang murah.

Karena meskipun harga murah tapi masyarakat tidak mempu membeli, maka pangan tadi dapat dikatakan tidak terjangkau oleh masyarakat.

Keterjangkauan pangan ini, erat kaitannya dengan tingkat kesejahteraan masyarakat, sehingga dengan menyediakan beras murah juga harus dilengkapi dengan aspek yang lain, yakni aspek yang menjamin bahwa masyarakat mampu mengakses/membelinya.

Tentunya hal ini akan terjadi bila masyarakat memiliki mata pencaharian. Selama masyarakat masih sulit mendapatkan pekerjaan, atau sulit mencari uang selama itulah kebijakan ini akan menjadi ironi di negri agraris ini.

Disisi lain pengadaan beras sachet yang akan dipasok dari tiap daerah menafikan harga yang berbeda dengan kebijakan satu harga.

Karena pada faktanya beras premium lokal memiliki harga yang cenderung lebih mahal. Bahkan petani tidak perlu menjual beras premium mereka kepada Bulog, karena konsumen bersedia membayar lebih  mahal.

Sebagai contoh beras mayas di Kalimantan Timur memiliki harga yang senantiasa lebih mahal dibanding beras IR64 atau Ciherang.

Sehingga kalaupun kemudian terdapat beras sachet kemungkinan isinya tidak berbeda dengan beras biasa yang di jual masyarakat sekitar.

Selain pasokan beras, yang perlu dipertimbangkan berikutnya adalah biaya tataniaganya. Biaya untuk mengemas dan margin untuk tiap lembaga pemasarannya. Sehingga satu harga untuk beras sachet ini menjadi sulit untuk diwujudkan.

Islam menjamin pangan.

Islam sesungguhnya  agama yang paripurna, dan islam menjamin hak masyarakat untuk mendapatkan pangan, papan serta sandang. Selain itu Islam juga menjamin Keamanan, kesehatan dan pendidikan masyarakat.

Untuk persoalan pangan, islam memberi jaminan pangan dengan tetap membiarkan keberagaman pangan, tidak diperlukan penyeragaman pangan dengan satu komoditas tertentu. Perbedaan jenis pangan adalah hal yang alamiah.

Islam menjamin tiap pria memiliki mata pencaharian, bahkan negara akan memberikan modal kepada masyarakat untuk memiliki mata pencaharian, sehingga dengan kemampuan ini masyarakat juga mampu mengakses bahan pangan juga hal lain.

Sebagaimana Rasul pernah memberikan kapak kepada seorang sahabat agar ia dapat mencari kayu dan memenuhi kebutuhan keluarganya.

Beras Sachet ini tentu saja boleh, namun ketika semua sendi kehidupan di atur berdasarkan hukum Allah, dan masyarakat memiliki mata pencaharian yang difasilitasi oleh negara, masyarakat dapat menggunakan untuk memenuhi kebutuhannya termasuk dalam hal pangan. Sehingga beras sachet tidak lagi sebagai ironi namun dapat menjadi solusi.

Artikel by Astik Drianti, S.P., M.P (Dosen di Universitas Kutai Kartanegara Tenggarong) Via Mediaoposisi.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*