Brand “KITA”, Jembatan Penghubung BULOG dan Masyarakat

Demand yang tinggi atas brand KITA tentu akan menjadi goals dari Bulog kedepan. Hal ini tentunya harus disertai dengan kemampuan pemerintah untuk melakukan perencanaan yang matang dalam menyusun road map pengembangan industri pangan nasional.

Perencanaan ini harusnya dapat memberikan gambaran secara jelas, kapan kebijakan-kebijakan pendukung dari kemunculan brand KITA akan mulai di-endors dan dilaksanakan.

Analisis regulasi terkait dengan ketahanan pangan harus mampu menjadi pengungkit bagi munculnya para local farmers yang berafiliasi dengan Bulog.

Bulogpun harus membuat kebijakannya tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan cadangan pangan nasional harus cukup.

Bulog harus mampu mentransformasi dirinya menjadi BUMN holding yang dibawahnya berpihak kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara adil dan merata.

Bulog harus mampu memikirkan, misalnya,  bagaimana strategi untuk mengoptimalkan produksi hasil pertanian yang menjad bahan baku dasar bagi keberadaan brand KITA di pasar.

Dengan pengalaman memimpin territorial yang mumpuni dari komandan Bulog saat ini, hal ini akan menjadi sangat mungkin.

Saya sih bermimpi, konsistensi brand KITA ini nanti dapat menyejahterakan para petani dan peternak di penjuru nusantara. Status petani/peternak dapat menjadi lebih ngetren ketimbang jadi PNS atau Pegawai Kantoran.

Lapangan Pekerjaan yang terbuka dan lebih variatif

Munculnya brand KITA yang disertai dengan kebijakan-kebijakan yang bertujuan untuk menumbuhkan usaha ekonomi produktif masyarakat, memunculkan kesempatan untuk membangun industri pasca panen dari hasil peternakan, pertanian dan perkebunan tentu akan membuka lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.

Kebijakan ini sejalan dengan program prioritas pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional. Kebijakan di hulu pada sektor pertanian harus menjadi prioritas, ketimbang memikirkan menjadi sub kon penjual brand KITA.

Disisi penjualan, ada baiknya Bulog mulai pula memikirkan untuk membuat sebuah aplikasi yang mampu melayani pembelian brand KITA secara eksklusif.

Bentuk jasa yang ditawarkan aplikasi ini harus mampu pula terotomatisasi dengan berapa banyak stock yang akan dijual secara online/offline brand KITA di wilayah-wilayah tertentu.

Kemunculan aplikasi ini sedikit banyak akan menjadi ajang baru bagi para millenials untuk berkarir.

Data penjualan brand KITA sebagai backbone monitoring evaluasi

Terkadang, ide-ide cerdas dan kebijakan dari pemerintah itu musiman. Musim lagi digandrungi, orang beramai-ramai mendukung. Begitu nanti berganti kepemimpinan, maka akan berganti kebijakan.

Kebijakan lama diabaikan begitu saja. Hal ini bisa diatasi bila dari awal sudah diniatkan bahwa kemunculan brand KITA harus berkelanjutan (sustainable).

Komitmen para pemegang kebijakan terkait (policy makers), pelaku pasar dan stakeholder di daerah harus dijaga.

Salah satu upaya menjadikan hal ini tetap sustainable, adalah dengan menyiapkan perencanaan yang detail berbasis waktu; sampai kapan brand KITA akan berjalan dan dilakukan evaluasi.

Data penjualan brand KITA salah satu harta karun yang dapat diolah untuk menjadi bahan evaluasi monitoring dan evaluasi ke depannya.

Data ini harus mampu berbunyi dan menyampaikan informasi secara mendetail terkait dampak dan aktifitas ekonomi yang ditimbulkan oleh kemunculan brand KITA secara nasional.

Dan ini harus dirancang sejak awal, jangan dijadikan komplementer layaknya proyek-proyek development yang sering diinisiasi pemerintah.

Dari apa yang telah dipaparkan diatas, maka kemampuan untuk mendukung strategi pasar melalui optimalisasi sisi outreach dari pelaksanaan brand KITA , harus teridentifikasi dan terimplementasi dengan baik.

Capaian-capaian yang dilakukan Bulog harus dipublikasikan pula secara teratur melalui kesempatan-kesempatan yang hadir dalam setiap rangkaian aktifitas Bulog.

Optimisme saya terhadap kemunculan brand KITA sangat tinggi, dan saya rasa masyarakat pun akan mempunyai pendapat yang sama.

Keberadaaan Bulog yang selama ini mungkin tidak begitu familiar dan dianggap berjarak dengan masyarakat, diharapkan setelah program ini berjalan akan lebih cair dan menjadikan Bulog lebih dekat pemerintah.

Semoga Pemerintah, dalam hal ini Bulog konsisten untuk melaksanakannya. Semangat!!! (.)

Artikel by Agustanto Imam Suprayoghie via Kompasiana.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*