BULOG Pacu Stok, Penyaluran Meningkat

beras sejahtera bulog rastra raskin

Situasi itu diduga dipicu beberapa sebab, antara lain karena stok beras pada akhir tahun 2017 dan awal tahun 2018 sangat tipis sehingga panen kali ini dipakai untuk mengisi stok, panen tidak serentak sehingga harga gabah tidak turun terlalu tajam, dan kualitas gabah relatif baik.

Penelusuran Kompas di sentra-sentra produksi sepekan lalu menemukan hal itu.

Menurut Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir, selain ketetapan harga eceran tertinggi yang tidak ekonomis, permintaan beras di pasar meningkat karena perubahan mekanisme penyaluran bantuan pangan dari natura ke nontunai.

Peningkatan permintaan beras di pasar diperkirakan mencapai 2 juta ton. ”Ada peningkatan permintaan karena masyarakat miskin membeli beras sendiri dengan uang Rp 110.000,” kata Winarno.

Dalam rangka menambah stok di Bulog, Kementerian Badan Usaha Milik Negara menggelar program Serap Gabah Petani. Program ini dilaksanakan, antara lain, oleh PT Pertani (Persero), PT Sang Hyang Seri (Persero), PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero), dan PT Pupuk Indonesia (Persero).

Tiga bank milik pemerintah dilibatkan membiayai dan mendampingi petani. Bank Mandiri di Jawa Barat, BNI di Jawa Timur, dan BRI di Jawa Tengah. BUMN-BUMN itu juga menyerap gabah petani penerima kredit usaha rakyat dan setelah diolah menjadi beras akan mendistribusikannya melalui agen-agen perbankan.

Kepala Biro Harga dan Analisa Pasar Bulog tahun 1976-1982 Sapuan Gafar mengingatkan, pemerintah perlu menghitung lebih detail produksi padi terkait tekanan alih fungsi lahan dan perubahan cuaca.

Ketidakakuratan data produksi memunculkan angka surplus yang semu. Dampaknya, seperti terjadi akhir tahun lalu hingga awal tahun ini, harga beras bergejolak karena stok beras menipis. Pemerintah akhirnya memutuskan untuk mengimpor 500.000 ton beras.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi beras dari 3,8 juta hektar sawah yang dipanen Maret-April 2018 diperkirakan mencapai 13 juta ton. Dengan perkiraan kebutuhan konsumsi sekitar 5 juta ton, surplus produksi selama dua bulan itu mencapai 7,9 juta ton. (Kompas.com)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*