gabah petani bulog

BULOG Revisi Target Serapan Gabah

Posted on

Badan Urusan Logistik (BULOG) terpaksa menurunkan target serapan gabah tahun ini menjadi 2,5 juta ton dari 3,6 juta ton. Pemangkasan target serapan gabah tersebut ditengarai akibat penurunan dari sektor produksi.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda, menegaskan revisi target serapan ini tak terlepas dari harga gabah di lapangan yang lebih tinggi dari harga pembelian pemerintah (HPP).
Menurut dia, harga cenderung dinamis, sementara di sisi lain, BULOG tak bisa membeli gabah atau beras melebih dari HPP.

“Petani tentu lebih memilih menjual ke penggilingan swasta dari pada ke BULOG. BULOG kalah bersaing dalam hal harga pembelian. Hal ini membuat pengadaan BULOG sangat terbatas dan tentunya mengganggu persediaan beras ke depannya,” ungkapnya, di Jakarta, Selasa (26/9).

Menurut Huda, akar dari masalah ini tentunya kembali ke data. Dalam penentuan HPP pastinya mengacu pada data produksi. Jika produksi melimpah, tentu penyerapan BULOG akan lebih mudah pada angka HPP saat ini.

Namun dengan kondisi saat ini, diduga kuat pemicunya bersumber dari data. Bisa saja produksinya tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Produksinya lebih kecil sehingga terjadi persaingan dalam harga pembelian antara BULOG dan penggilingan swasta.

Jika pemerintah menghendaki harga gabah di tingkat petani mengikuti HPP, kunci utamanya ialah pada data.
Data menjadi penentu baiknya manajemen pemberasan. Wewenang itu terdapat di Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Pusat Statisitik (BPS).

Baca juga : BPS Pakai Metode Ini untuk Data Produksi Padi

“Metode penghitungan oleh instansi terkait harus dibenahi. Tidak apa-apa apabila ternyata hasil produksinya jelek, akan tetapi dampaknya ke pengambilan kebijakan yang kredibel sesuai dengan data di lapangan,” paparnya.

Direktur Utama BULOG, Djarot Kusumayakti, menyebutkan penurunan serapan BULOG bisa dilihat dari perkembangan serapan di daerah-daerah yang menjadi sentra utama produksi nasional. Serapan BULOG di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur terus menurun dalam beberapa waktu terakhir.

“Apabila sebelumnya sekitar 10 ribu ton per hari, pada pekan-pekan terakhir cenderung menurun menjadi hanya 9.000 ton per hari,” kata Djarot.

Di tengah serapan di tiga wilayah tadi turun, BULOG sebenarnya masih bisa mengandalkan serapan dari sentra produksi lainnya, seperti halnya Sulawesi Selatan.

Baca juga : Data Produksi Beras, Realitas atau Subjektifitas?

Namun, beberapa hari terakhir harga gabah di sana kembali merangkak naik, mengikuti tiga wilayah produsen utama tadi.

Penurunan serapan BULOG tak terlepas dari tingginya harga gabah dan beras di pasaran.

Itu terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan. Sementara di sisi lain setiap bulannya BULOG harus menyuplai 230 ribu ton beras sejahtera (rastra).

Kondisi Anomali

Pakar Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, mengaku pencapaian BULOG termasuk anomali, mestinya pada September serapannya mendekati target, sebab panen tertinggi itu pada periode Februari–April dan periode Juli–Agustus. “Sulit mengandalkan serapan pada Oktober–Desember karena panenannya sedikit,” tegasnya.

Andreas menengarai minimnya serapan bukan hanya karena masalah naiknya harga gabah di tingkat petani, tetapi karena berkurangnya jumlah produksi.

Penurunan produksi bisa dilihat dari harga beras medium yang di kisaran 10.500–10.900 rupiah per kilogram (kg). Itu termasuk harga yang tinggi, tak sesuai dengan ambang batas.

Sumber berita : http://www.koran-jakarta.com/BULOG-revisi-target-serapan-gabah/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *