Buwas dan Tantangan Baru BULOG

Posted on

Karena itu, jadi tidak relevan dan tidak logis menu­gas­kan Bulog me­nye­rap gabah/ beras pro­duksi pe­tani domes­tik, se­perti yang di­wajibkan peme­rin­tah saat ini.

Akan dike­ma­nakan beras se­rapan do­mes­­tik itu? Beras se­lain ber­sifat bulky  juga mu­dah rusak. Tanpa outlet  pe­nya­luran yang je­las dan pasti, me­nugas­kan Bulog menye­rap ga­bah/beras pe­tani bisa dipas­ti­kan bakal mem­buat BUMN ini pelan-pelan bang­krut. Buwas mesti me­mahami betul hal ini.

Baca juga : Momentum Tepat Merombak BULOG

Kedua, tugas Bulog se­makin luas.

Menurut Perpres 48/ 2016 tentang Penugasan kepada Perum Bulog dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional, Bulog tidak hanya ber­tugas menjaga keter­sedia­an pangan, tapi juga harus menga­mankan harga di tingkat produsen dan kon­sumen.

Cakupan pa­ngan yang ditangani di­per­luas, yaitu beras, jagung, dan ke­de­lai, serta (bersama BUMN lain bisa me­nangani) gula, minyak goreng, bawang merah, terigu, cabai, da­ging sapi, daging ayam, dan telur ayam.

Bidang usa­ha tak hanya logistik, tapi juga di­per­luas ke produksi, per­da­gang­an dan jasa, serta industri berbasis pangan.

Beras, kedelai, jagung, gula pasir, daging sapi, tepung terigu, dan minyak goreng bukan hal baru bagi Bulog.

Sementara cabai, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam merupakan komoditas baru.

Sepanjang era Reformasi, Bulog pernah men­dapatkan penugasan mena­ngani pangan di luar beras, seperti daging sapi, bawang merah, dan kedelai.

Namun, penugasan itu sifatnya hangat-hangat tahi ayam. Pemerintah ribut saat harga melonjak ting­gi. Setelah harga turun, peme­rintah lupa dan penugasan ditiadakan.

Selain itu, penugasan baru kepada Bulog untuk men­stabil­kan harga pelbagai pangan itu mengabaikan dua instrumen penting: harga (atas dan bawah) dan cadangan.

Tanpa peng­atur­an harga (atas dan bawah) dan cadangan, menstabilkan harga pangan sulit dilakukan, bah­kan se­suatu yang amat muskil.

Itu artinya, meskipun tugas PSO terkait beras pelan-pelan telah ditiadakan, Bulog tetap dibebani fungsi-fungsi sosial yang menyangkut kepen­ting­an dan pelayanan publik, sesuatu yang tidak masuk akal.

Bagai buah simalakama, si­tuasi ini membuat mana­jemen Bulog berada pada posisi ser­ba­salah.

Bila fungsi-fungsi sosial bisa dipenuhi, manajemen ba­kal menuai pujian. Masalah­nya, menunaikan fungsi-fungsi sosial itu potensial mem­buat Bulog merugi, bah­kan bangkrut dalam jangka pan­jang.

Sebalik­nya, jika ma­najemen abai pada fungsi-fungsi sosial, dan lebih meng­urusi fungsi komersial, maka Bulog bakal menuai ke­caman publik (juga pemerin­tah).

Mendayung di antara dua situasi sulit itu membuat kursi yang diduduki Buwas amat panas: tiap saat bisa diganti.

Diganti bukan semata karena tak becus, tapi karena kebijak­an pemerintah yang membuat me­reka terjerat situasi ser­ba­sulit.

Penulis KHUDORI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *