stabilisasi harga beras bulog

Harga Beras Terancam Tidak Stabil Akibat BPNT

Posted on

Pemerintah perlu berhati-hati dalam menerapkan Bantuan Pengan Non Tunai (BPNT). Bantuan itu dapat mengurangi peran BULOG dalam menstabilkan harga beras. ‎Kondisi harga beras yang tidak stabil berpengaruh besar terhadap pengendalian inflasi.

Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion “Antisipasi Kebijakan Beras Sejahtera Sistem Tunai” yang diselenggarakan Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) di Jakarta,Senin 29 Mei 2017. Seperti diketahui, pemerintah akan uji coba menyalurkan BPNT mulai Juli 2017 di 44 kota. Bantuan berupa voucher atau kartu pangan tersebut rencananya akan dioperasionalkan tahun 2018.

Guru Besar Ekonomi Pertanian dan Agrisbisnis Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada, Dwidjono Hadi Darwanto, mengatakan saat ini BULOG tidak hanya berperan dalam fungsi sosial, namun juga membantu menstabilkan harga beras.

“Pengadaan BULOG kan mengambil dari petani, kalau ngambil stok, harga jual petani naik, kalau tidak ngambil harganya bisa anjlok. Begitu juga saat harga beras di pasar konsumen naik, BULOG melepas barang s‎ehingga harganya turun,” ujar Dwi.

Dwi mengatakan, BULOG menyerap beras dari petani sebesar 1,2 juta ton untuk program Beras Miskin yang ada sebelumnya. Jika program tersebut diganti menjadi tunai, penyerapan beras oleh BULOG menjadi berkurang menjadi 250 ribu ton ditambah 400 ribu ton untuk cadangan beras pemerintah (CBP).‎

“Jika penyerapannya kecil, maka BULOG kehilangan pengaruhnya dalam menentukan harga beras. Itu berarti juga menghilangkan tangan pemerintah dalam stabilisasi harga di pasar,” ujar dia.

Menurut Dwi, ‎stabilisasi harga beras sangat penting karena sangat mempengaruhi inflasi. Hal ini perlu diantisipasi pemerintah. “Jika ke depan BULOG hanya menyediakan beras komersil, maka pengaruhnya tidak akan sama. Program BNPT bagus karena tidak hanya menyediakan beras tapi juga ada telur, namun perlu diantisipasi juga pengaruhnya terhadap stabilitas harga pangan,” ujar dia.

Sistem Kartu

‎Selain itu, Dwi mengatakan, pelaksanaan BPNT‎ ini juga masih sulit jika dilaksanakan dengan sistem kartu. Sebab daerah-daerah kantong kemiskinan belum semuanya memiliki jaringan internet. Untuk itu, menurut Dwi, sebaiknya pelaksanaan program ini dilakukan secara bertahap mulai dari daerah urban, sub urban, lalu pedesaan termasuk remote area.

Sementara itu Ketua Perhepi Bustanul Arifin mengatakan, selama ini fungsi program beras miskin lebih berat ke fungsi perlindungan sosial dibandingkan stabilitas pangan.‎ Program raskin lebih banyak bertujuan untuk memberikan bantuan pada rumah tangga sasaran yang tidak mampu.

Padahal, Bustanul mengatakan, program raskin tersebut juga memilii fungsi lain yaitu stabilitas pangan khususnya beras. “Faktanya pada tahun 2010 dan 2015, keterlambatan penyaluran raskin berdampak pada peningkatan harga eceran beras di pasar konsumen,”ujarnya.

Sumber berita : Pikiran Rakyat

One thought on “Harga Beras Terancam Tidak Stabil Akibat BPNT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *