Ide Brilian Buwas, Beras Harus Ada di Polsek dan Koramil

Apalagi semboyan yang digaungkan adalah kerja, kerja dan kerja. Ketika gagal maka akan timbul pertanyaan, apa yang sudah anda lakukan selama ini.

Ide Buwas diatas merupakan pancingan saja. Sebuah pemikiran yang brillian dan menerapkan ilmu reserse yang sangat ia kuasai.

Ia hanya ingin melihat bagaimana reaksi publik, terutama instansi Polri dan TNI jika tumpukan beras berada di kantor-kantor mereka.

Tentu pasti penuh sesak dan akan membuat ruang gerak menjadi terbatas. Belum lagi warga berduyun duyun untuk mengantri membeli beras.

Kantor TNI dan Polri akan menjadi penuh dan akan menambah daftar kerjaan baru bagi mereka.

Jika kita telisik lebih mendalam, sebenarnya Buwas sudah menyadari bahwa untuk mengendalikan harga kebutuhan pokok tidaklah mudah.

Untuk mencapai hal itu, maka dibutuhkan dukungan dari semua pihak terutama pemerintah.

Buwas dengan idenya tadi, hanyalah ingin mengembalikan agar aparatur negara PNS, TNI dan Polri supaya kebutuhan berasnya tetap di supply oleh Bulog.

Mereka selama ini naturanya berupa uang, harus digantikan seperti dahulu yaitu jatah beras. Inilah salah satu cara yang ampuh, agar harga beras menjelang puasa dan lebaran tetap stabil.

Tidak hanya itu, masyarakat yang berduyun duyun mengantri di kantor Polsek dan TNI, juga ia ilustrasikan sebagai masyarakat miskin yang selama ini mendapat jatah beras rastra atau raskin.

Namun pada tahun ini justru membeli beras di pasaran karena diganti menjadi program bantuan pangan non tunai (BPNT).

Buwas memang ditempa menjadi abdi negara. Oleh karena itu, secara tidak langsung dia sudah menunjukkan bagaimana perlunya campur tangan pemerintah terhadap persoalan pangan di tanah air.

Jika kita cermati lebih dalam, jumlah masyarakat miskin yang menerima rastra ada sekitar 15.8 juta kepala keluarga.

Jika kita kalikan empat saja berarti ada 60 juta orang, yang perutnya sudah di jamin oleh negara. Lalu jika ditambah aparatur sipil negara, TNI dan Polri yang berjumlah 20 juta KK atau sekitar 80 juta jiwa juga mendapat jatah beras yang sama.

Maka bisa kita bayangkan harga akan menjadi stabil, karena hampir lima puluh persen kebutuhan pangan penduduk Indonesia sudah terpenuhi.

Apakah ini bisa terjadi. Jawabannya tentu sangat bisa. Dengan syarat jika didukung oleh berbagai pihak.

Bila dulu aparatur pemerintah mengeluhkan kualitas beras yang jelek, maka sekarang tidak lagi. Bulog sudah memiliki infrastruktur modern untuk menghasilkan kualitas beras yang sesuai dengan permintaan. Sehingga keluhan diatas tidak akan terjadi lagi.

Sebenarnya itulah cara yang paling ampuh untuk membuat harga kebutuhan pokok menjadi stabil. Karena, sudah dapat dipastikan, masyarakat yang membeli adalah mereka yang berpenghasilan rendah tidak terkecuali juga aparatur pemerintah.

Ide yang sangat brillian. Ibarat catur, Buwas sedang merancang strategi empat langkah ke depan. Tidak hanya itu, terkadang rencana tersebut terdiri dari beberapa strategi, plan a, plan b, bahkan sampai plan d. Rencana tersebut terkadang sifatnya memancing agar ada reaksi disetiap aksi yang dilakukan.

Semua langkah terobosan yang dilakukan oleh sosok seorang Buwas, terkadang sulit untuk dipahami oleh masyarakat awam.

Hanya orang yang telah mengenal lama karakter Buwas lah, yang mampu membaca tafsir itu. Lanjutkan pak Buwas, memang dunia pangan tanah air butuh sosok yang tegas dan tidak takut akan tekanan.

Artikel by Julkhaidar Romadhon via Kompasiana.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*