mentan-amran-bulog

Mentan : Mari Perangi Kartel Pangan

Posted on

Seumpama dianalogikan, maka kenaikan harga pangan sama halnya dengan banjir yang melanda Jakarta setiap tahun, dan terus berlangsung dan pada akhirnya Jakarta  tidak mampu melewatkan satu tahunpun tanpa mengalami banjir. Sama halnya dengan harga pangan, setiap tahun Indonesia selalu alami gejolak harga pangan ditingkat konsumen. Terlebih fluktuatifnya harga pangan terjadi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Siklus ini kembali terjadi di tahun 2017, mulai dari meroketnya harga cabai rawit merah yang menembus angka 120.000/kg di pasar, padahal dibulan Maret  produksi cabai mencapai 75.465 ton dengan asumsi konsumsi sebesar 68.472 ton, bawang merah produksi dibulan maret sebesar 99.435, asumsi kebutuhan sebesar 98.639 ton, tetapi harga dipasar mencapai 50.000/Kg dari harga normal 28.000/kg.

Setelah harga Cabai dan bawang berangsur turun ke harga normal, giliran harga bawang putih yang melonjak tajam dipasar yaitu 48.000/kg dari harga normal 22.000/kg. Bahkan dibeberapa daerah harga bawang putih melonjak hingga 60.000/kg.

Jika produksi cukup, lalu persoalannya apa yang menyebabkan lonjakan harga pada beberapa komoditi, ada beberapa faktor yaitu mulai masa panen yang bersamaan dengan tingginya curah hujan, sehingga petani memilih untuk tidak memanen karena akan berdampak terhadap kualitas komoditi itu sendiri ini dialami untuk komoditi cabai.

Faktor lainnya yaitu panjangnya rantai distribusi yang melibatkan tengkulak ditingkat petani  dan pemasok dipasar. Untuk hal ini Kementerian Pertanian sejak 2016 sudah membentuk jaringan toko tani yang bertujuan memperpendek rantai distribusi pangan, dan akhir-akhir ini jaringan toko tani yang tersebar diseluruh Indonesia telah menjalin kerjasama dengan perusahaan jasa angkutan yang mengantar langsung pesanan dari toko tani ke rumah konsumen. Keuntungan dari toko tani ini, konsumen mendapatkan produk pangan yang segar dan harga yang wajar.

Untuk faktor yang kedua, ini menjadi perhatian khusus pemerintah karena titik terakhir distribusi pangan pokok selain beras yang kewenangannya di Badan Urusan Logistik (Bulog), ada di para distributor dan merekalah yang mengatur lalu lintas pasokan kebutuhan pangan pokok hingga ke pasar-pasar tradisional di seluruh Indonesia. Ironisnya peranan distributor ini secara tidak langsung  berperan pada fluktuatif harga pangan dipasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *