Penggilingan Padi Butuh Revitalisasi

Kualitas penggilingan padi di Indonesia semakin menurun akibat umur mesin lama. Kondisi tersebut memicu kualitas beras yang dihasilkan tidak maksimal. Di satu sisi, akses permodalan oleh perbankan masih terbatas.

Ketua Perusahaan Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengatakan, sekitar 172 penggilingan atau 95 persen dari seluruh perusahaan penggilingan padi di Indonesia berskala kecil. Mayoritas penggilingan di Pulau Jawa sebagai pusat sentra beras.

“Untuk tahap awal paling tidak 10 persen atau sekitar 13 ribu penggilingan harus direvitalisasi untuk daerah sentra,” kata Sutarto kepada HARIAN NASIONAL, Minggu (8/4).

Rata-rata kapasitas produksi penggilingan skala kecil mencapai 10 ton per hari. Mereka berperan penting karena mendominasi jenis penggilingan di Indonesia.

Namun, selama ini penggilingan dinilai bukan sebagai sektor yang dapat disentuh perbankan.

Perpadi meminta kerja sama pemerintah, perbankan, serta Bulog untuk merevitalisasi penggilingan padi.

“Penggilingan yang kecil-kecil selama ini kesulitan revitalisasi. Mungkin visibel, tapi tidak bankable,” ujarnya.

Sutarto mengharapkan Bulog sebagai pembeli beras dapat memberikan kepastian pasar bagi penggilingan ketika peralatan diperbarui.

Di sisi lain, kerja sama antarpenggilingan skala kecil dan besar perlu dibangun agar dapat saling memasok kebutuhan.

Menteri Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, sejak awal alokasi kredit usaha rakyat (KUR) untuk penggilingan padi skala kecil telah diwacanakan.

Pemerintah masih berdiskusi bersama perbankan untuk pemberian KUR bagi penggilingan.

“Kita tanya mereka (perbankan) dulu. Ini memungkinkan atau tidak. Namun, kebijakan KUR dari kita karena itu kredit pemerintah,” kata Darmin.

Darmin menilai, pengadaan mesin pengering secara langsung menolong petani yang panen kurang baik, terutama saat musim hujan.

Petani akan sulit menjual gabah dengan kondisi kadar air tinggi ketika tidak menemukan penggilingan dengan mesin pengering.

Namun, sejauh ini, rata-rata penggilingan padi skala kecil belum memiliki mesin pengering.

Berita dari okezone menyebutkan bahwa Skema KUR untuk perusahaan pertanian disiapkan.

Pemerintah tengah mengkaji skema penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk perusahaan penggilingan dan pengeringan padi.

Rencananya, pemberian KUR akan digunakan untuk pengadaan penggilingan dan dryer kepada Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, skema KUR untuk penggilingan dan pengeringan padi masih memerlukan penghitungan yang lebih matang. Saat ini banyak perusahaan penggilingan padi yang kapasitasnya kecil.

Mereka menyampaikan usulannya. Itu kan harus ada hitungannya dengan perbankan. Minggu depanlah, ada hitungannya diputuskan berapa, ujarnya di Jakarta.

Menurut Darmin, pengusaha akan diuntungkan apa bila memiliki penggilingan dan dryer yang berkualitas.

Kalau ada dryer, saat panen apalagi waktu hujan, petani tertolong karena dia tidak panik menjualnya karena padi masih basah.

Itu manfaat bagi pengusaha yang punya penggilingan juga punya dryer, ungkapnya.

Selain itu, pengusaha akan dihubungkan langsung dengan Perum Bulog untuk membeli langsung hasil panen sehingga Bulog juga diuntungkan karena akan punya stok berlebih.

Kesepakatannya itu akan dijual ke Bulog. Bulog diuntungkan karena punya stok lebih banyak.

Konsumen diuntungkan karena gabah lebih bagus karena ada pengeringnya, atau kalau mau langsung digiling, berasnya lebih bagus, papar Darmin.

Direktur Jaringan dan Layanan BRI Osbal Saragih mengatakan, pihaknya tengah mempersiapkan kajian anggaran yang sesuai untuk program tersebut.

Menurut dia, BRI memiliki anggaran KUR kecil hingga Rp10,6 triliun untuk membantu proyek masyarakat di sektor produktif.

Pemerintah berencana memberikan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk revitalisasi penggilingan dan pengering (dryer) padi. Hal tersebut menjadi hasil rapat yang dilakukan di Kementerian Koordinator bidang Perekonomian.

Usai rapat, Direktur Jaringan dan Layanan BRI Osbal Saragih mengatakan, Bank BRI akan ikut menberikan KUR untuk merevitalisasi penggilingan padi dan dryer tersebut. Nantinya akan masuk ke dalam KUR kecil.

Dia melanjutkan, untuk detail dana penyaluran pihaknya belum menetapkan. Pasalnya sistemnya penyalurannya juga masih dalam pembicaraan dan akan dilanjutkan pada minggu depan bersama semua stakeholder.

“Nanti kita akan lihat, karena kita masih menentukan model nanti Perpadi akan mengajukan model satu, model dua. Ini kan masih mencari bentuk, sedang akan dibentuk tim teknis oleh pak Menko, dan mungkin hari Rabu kita kumpul lagi,” jelasnya.

Sementara itu, penyaluran ini untuk sektor produktif yang juga sekaligus bisa meningkatkan perekonomian rakyat.

“Pasti sektor produktif karena penggilingan padi memang sektor produktif. Ini juga untuk meningkatkan nilai tambah di para pengusaha yang punya penggilingan padi.

Nanti ke pengusaha penggilingan padi, sebenarnya penggilingannya sudah ada jadi tinggal bagaimana merevitalisasi yang sebelumnya tidak memiliki dryer jadi punya dryer.

Karena masalah kualitasnya biar lebih baik apalagi di musim hujan tidak ada dryer mereka akan kesulitan,” tukasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*