Peran BULOG dalam Mengendalikan Harga Beras

Ijon telah menjerat petani bahkan sebelum musim tanam dimulai! Para petani itu kini bahkan sudah mulai membeli beras untuk dimakan.

Ketika bencana membuat sawah mereka puso, maka mereka itu akan seperti tikus yang mati kelaparan dilumbung padi!

Kedua, Bulog Tak berdaya

Masih ingat kasus beras “Maknyus” tahun lalu yang menghebohkan itu? Kasus “memalukan” yang melibatkan banyak wajah para petinggi ketika melakukan penggrebekan ke gudang PT. IBU itu akhirnya raib tak berbekas karena hal itu ternyata telah membuat wajah mereka itu tersipu malu…

Tapi yang pasti, PT. IBU membeli gabah petani dengan harga yang lebih tinggi daripada harga pembelian Bulog! Akibatnya petani lebih suka menjual gabah kepada PT. IBU.

Artinya apa? Kini gabah petani itu sebagian besar lebih banyak mendekam di gudang PT. IBU daripada di gudang Bulog! Tetapi hal ini justru bagus sekali.

Tugas Bulog adalah menyangga hasil panen petani ketika harga gabah jatuh! Ketika petani lebih suka menjual gabah ke pedagang, itu bukanlah dosa Bulog! Jadi dalam hal ini PT. IBU justru telah membantu Bulog secara tidak langsung.

Untuk menambah cadangan stoknya, Bulog seharusnya ketika itu melakukan impor beras terbatas dari Vietnam karena harganya jauh lebih murah daripada harga gabah petani.

Tetapi hal itu tidak dilakukan Bulog? Mengapa? Karena Bulog pasti akan dicap kapitaslis antek-antek asing aseng!Bagaimana mungkin Bulog impor beras pada saat panen raya!

Padahal justru disinilah kunci keberhasilan mencegah naiknya harga beras pada saat sekarang ini!

Ingat sekali lagi tugas pokok Bulog adalah menyangga hasil panen petani ketika harga gabah jatuh. Panen raya itu hanya dua periode, dan ketika petani lebih suka menjual gabah ke pedagang, maka bukan kewajiban Bulog juga untuk membeli gabah dengan harga lebih tinggi dari harga pedagang!

Tugas pokok Bulog lainnya (dan ini setiap saat) adalah mengendalikan HET beras. Ini bisa sukses hanya kalau gudang Bulog itu berasnya bejibun, dan harga pembelian beras Bulog itu tidak mahal agar tidak membebani kantong para pembayar pajak!

Ketika musim tanam berlangsung dan petani tidak mempunyai lumbung lagi, maka beras hanya ada di gudang Bulog dan di gudang saudagar beras.

Saudagar tahu persis berapa banyak beras di gudang Bulog tetapi Bulog tidak tahu berapa banyak beras di gudang saudagar!

Lalu pekerjaan test the water dimulai. Ketika saudagar mengurangi volume ke pasar, PIBC (Pasar Induk Beras Cipinang) langsung bereaksi dengan menaikkan harga. Bulog kemudian hanya bisa “tersipu malu melihat kerlingan nakal para saudagar genit ini…”

Melihat situasi yang terjadi pada saat sekarang ini, kuat dugaan stok Bulog memang tidak cukup kuat untuk “bertempur” di pasar demi menjaga HET beras.

Apalagi Bulog juga harus menjaga stok siaga apabila terjadi bencana nasional/KLB yang memerlukan persediaan beras yang cukup banyak dan lama.

Bulog dalam situasi terjepit. Apalagi petinggi di Kementan itu selalu berteriak-teriak bahwa kita ini sudah swasembada beras, dan Bulog juga sudah dua tahun ini tidak mengimpor beras.

Jadi ketika isu impor ini beredar, para petinggi di Kementan itu bak orang kebakaran jenggot…

Sikap seperti ini sebenarnya sangat mencederai rasa keadilan dan keperdulian sosial. Maklumlah orang Kementan itu memang belum pernah makan nasi aking!

Ketika harga beras naik mencapai Rp 2.000/kg sepertinya ada yang salah dengan kata swasembada beras! Harga beras itu hanya dipengaruhi oleh hukum penawaran dan permintaan.

Ketika terjadi “swasembada” maka harga beras akan turun. Sebaliknya ketika beras menghilang maka harganya akan naik. Metodenya sangat sederhana saja.

Jadi ketika ada yang berteriak swasembada, tidak perlu juga marah-marah. Cukup katakan, “Tolong antarkan swasembadanya ke pasar Cipinang….”

Kalau tadi diatas dikatakan bahwa Bulog berkewajiban untuk menyangga gabah petani at any cost, maka sebaliknya juga Bulog berkewajiban untuk menjaga harga beras sesuai dengan HET at any costtidak perduli apakah beras tersebut produk lokal atau impor, karena mengendalikan harga itu adalah amanahyang harus selalu dijunjung tinggi oleh Bulog!

Lalu kini timbul pertanyaan, berapakah harga keekonomisan beras itu?

Ketika pemerintah sudah menetapkan harga pembelian gabah dari petani dan HET beras, maka soal harga keekonomisan itu bukan lagi menjadi beban tanggung jawab Bulog, melainkan menjadi tanggung jawab Depkeu yang termaktub dalam APBN sebagai bagian dari subsidi pangan.

Salam hangat

Reinhard Freddy Hutabarat, kompasiana.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*