kantor bulog jakarta

Pro Kontra Bulog Gandeng TNI/Polri dalam Distribusi Pangan

Posted on

Sementara Kepala Satuan Tugas (Satgas) Pangan Mabes Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan, rencana Buwas melibatkan aparat dalam distribusi Bulog hingga Polsek masih sebatas wacana.

Hingga saat ini, pihaknya belum menerima arahan dari Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian untuk memperluas pengawasan distribusi hingga tingkat kecamatan.

“Belum tanda tangan MoU, belum ada arahan Kapolri. Masih jauh itu dan beliau [Buwas], kan, juga enggak bisa perintah-perintah Polri karena sudah purnawirawan. Kami selama ini sifatnya koordinatif dengan Bulog, Kemendag, KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha). Jadi, enggak ada saling memerintah,” kata Setyo kepada Tirto, Minggu (6/5/2018).

Tahun lalu, kata Setyo, pendampingan pengamanan distribusi pangan yang dilakukan oleh Polri hanya sampai lingkup Polres yang setara tingkat Kabupaten/Kota. Masing-masing tingkatan, kata Setyo, terdapat Satgas Pangan.

Polisi Tidak Berjualan

Namun demikian, Setyo menegaskan bahwa keterlibatan Polri dalam tata kelola distribusi pangan selama ini bukan termasuk ikut berjualan bahan pokok pangan, seperti pihak Bulog.

“Tidak ikut jualan. Satuan tugas pangan itu untuk melakukan pengamanan distribusi kalau ada yang menyimpang-menyimpang kami tindak. Kami bertindak dari preventif hingga represif,” kata Setyo.

Misalnya, kata dia, saat Bulog melakukan operasi pasar, maka dari Satgas Pangan melakukan pendampingan. Sebab, sebelumnya seringkali operasi pasar yang dilakukan mendapat gangguan dari preman daerah setempat yang suka mengancam.

“Tugas pokok kami adalah pengamanan, bukan jualan beras. Yang kami lakukan seperti itu. Yang kami lakukan kemarin adalah kami mendampingi, melakukan pengamanan, membantu Bulog dan Kemendag melakukan operasi pasar ketika barang pangan mulai naik, sementara stok cadangan masih ada,” kata Setyo.

Ia menjelaskan, Satgas Pangan dibentuk atas arahan Kepala Polri, yang terdiri dari seluruh anggota aktif Polri dari tingkat pusat, Polda, hingga Polres.

Awal dibentuk pada 2017, kata Setyo, Satgas ini memiliki nama lengkap Satuan Tugas Anti Mafia Pangan. Untuk mempersingkat ejaan dan memudahkan penyebutan, maka disingkat dan dikenal sebagai Satgas Pangan.

Namun, Setyo menekankan bahwa tugas pokok dari adanya Satgas Pangan tetap dalam rangka memberantas mafia pangan. Kalau ada pelanggaran dapat segera ditindak, tapi ketika masih dapat dibina, dilakukan pembinaan secara persuasif.

Setyo mencontohkan terkuaknya kasus PT Indo Beras Unggul (IBU) yang melakukan pemalsuan kualitas beras, serta PT Garam yang melakukan kecurangan dalam mengimpor. Kedua kasus itu, kata Setyo, tidak terlepas dari peran Satgas Pangan.

“Tahun lalu sudah ada yang kami tindak, ada 400 lebih. Seperti, PT IBU yang dirutnya kena hukuman 1 tahun lebih, dan PT Garam. Itu dari Satgas Pangan,” kata dia.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog, Karyawan Gunarso menjelaskan bahwa keterlibatan Polri/TNI tidak lantas menggeser tugas Bulog dalam distribusi pangan.

“Distribusinya tetap kami bisa lakukan langsung ke pasar-pasar. Pokoknya wilayah langsung yang bisa ke konsumen, baik itu pasar atau pun kami kerja sama dengan para mitra sinergi BUMN atau para ritel yang melayani konsumen,” kata Karyawan kepada Tirto, Minggu (6/5/2018).

Peran Polri dan kemudian rencana melibatkan TNI, kata Karyawan, sebatas melakukan pengawalan, monitoring, dan evaluasi keamanan pelaksanaan distribusi hingga sampai kepada end user, yaitu masyarakat.

“Mungkin pengawasan secara bersama-sama, harga bisa di bawah harga yang ditetapkan pemerintah (Harga Eceran Tertinggi/HET)” kata Karyawan.

Karyawan mengklaim, kerja sama yang sudah dibangun Bulog dengan Polri dan menyusul dengan TNI adalah salah satu bentuk komitmen Bulog dalam menjaga stabilisasi harga pangan, sebagaimana yang dimandatkan Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita pada 6 April 2018.

Saat itu disebutkan bahwa tugas pelaksanaan operasi pasar Bulog diperpanjang hingga 31 Desember 2018. Semula terhitung hanya 1 Januari hingga 31 Maret 2018.

Sumber : tirto.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *