beras

Waspadai Situasi Perberasan Jelang Akhir 2017, Perlu Segera Diantisipasi

Posted on

Situasi perberasan dalam beberapa bulan terakhir patut diwaspadai. Pergerakan harga dan ketersediaan beras harus terus dinatisipasi sehingga tidak menimbulkan keterkejutan menjelang akhir tahun 2017 nanti.

Praktisi perberasan Petrus Budiharto di Jakarta, akhir pekan lalu, mengatakan selama Agustus-Oktober biasanya harga beras masih agak rata walau ada pergerakan naik sedikit demi sedikit. Namun, mulai bulan September tahun 2017 ini menunjukkan kejanggalan alias terjadi anomali.

Harga gabah kering panen (GKP) di lapangan sudah di kisaran 5.600/kilogram (kg). Dengan estimasi rendemen sekitar 56% maka modal penggilingan sudah 10.000 per kg. Ini belum termasuk biaya produksi dan angkutan ke pasar atau distribusi.

“Ini menjadi pertanyaan bersama dan harus dicarikan solusi seceparnya. Antisipasi lebih awal sebaiknya segera dilakukan,” kata Ketua Bidang Pemberdayaan-Perkumpulan Petani dan Nelayan Nusantara (Peta Nusa) ini.

Menurut dia, ada sejumlah faktor, mulai dari kegagalan panen di sentra sentra produksi beras, dampak kebijakan penentuan harga eceran tertinggi (HET), atau juga faktor lain sehingga harga di lapangan agak liar dan susah dikendalikan.

“Perlu strategi dan solusi agar harga beras di lapangan tetap bisa dikendalikan dan tidak menimbulkan gejolak serta inflasi terhadap ekonomi Indonesia,” ujar jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Dikatakan, dengan HET untuk beras medium 9.450/kg maka penggilingan-penggilingan kecil dan menengah yang dihantam karena untuk sekedar beroperasi saja sudah minus.

Ujung-ujungnya penggilingan tidak akan beroperasi dan terjadi kelangkaan beras di lapangan.

Ironisnya, lanjut dia, kondisi tersebut sudah mulai terjadi dengan indikasi dari lapangan adalah harga gabah di 5.600 per kg.

Lalu harga pokok penjualan (HPP) penggilingan pada tingkat 10.000 per kg, lalu HET beras medium 9.450 per kg. Dengan fakta-fakta itu maka kondisi ril pada agen-agen beras kecil seputar Jabodetabek menunjukkan jumlah beras yang mulai berkurang pasokannya.

Kalaupun ada harganya sudah di atas 10.000/kg untuk beras yang bagus dan harga 9.000/kg untuk beras yang kurang bagus.

Pada awal pekan lalu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan bahwa stok beras tahun ini dalam posisi aman, bahkan jauh di atas kebutuhan nasional.

Stok beras di gudang Bulog saat ini mencapai 1,7 juta ton, sedangkan kebutuhan beras sejahtera (rastra) hanya sebesar 213 ribu ton per bulan. Artinya, ketersediaan beras cukup hingga delapan bulan ke depan.

Dia mengungkapkan, saat ini serapan gabah masih 10 ribu ton per hari, namun akan terus ditingkatkan ke depannya.

“Dengan besarnya kebutuhan ini, stok 1,7 juta ton mampu mencukupi kebutuhan sampai delapan bulan, katakan sampai April 2018 karena nanti ada operasi pasar dan segala macam. Kemudian Februari ada panen raya, jadi produksi bertambah dan stok berlimpah. Kemudian, ada tambahan. Sekarang serapan masih 10 ribu ton, tambahan 200 ribu ton, anggap tambah tiga bulan dari April berarti sampai Juni,” kata dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *