Akankah Krisis Beras Terjadi?

beras bulog indonesia

Perdebatan ihwal krisis beras pada tahun 2020 sempat ramai. Di satu pihak, ada keyakinan kuat krisis tidak akan terjadi. Alasannya, sampai saat ini proses produksi belum terganggu.

Masih belum ada laporan gagal panen padi akibat bencana atau hama penyakit. Meskipun ada pandemi Covid-19, proses produksi di lahan masih berjalan baik.

Karena itu, kelompok ini memandang tidak pada tempatnya risau akan krisis beras. Bagi mereka ini, gembar-gembor krisis beras hanya untuk menakut-nakuti dan menebar cemas.

Di pihak lain, ada yang meyakini krisis beras bakal terjadi tahun ini. Bukan hari-hari ini, tapi saat paceklik (diperkirakan Oktober 2020-Februari 2021) dan tatkala pandemi Covid-19 tidak jelas kapan akan usai.

Tujuan kelompok ini bukan untuk menebar cemas atau menakut-nakuti, tetapi hendak memberikan peringatan agar pihak terkait jauh-jauh hari mempersiapkan diri dengan perisai. Harapannya, kalaupun krisis beras meletup, daya ledaknya tak terlalu berat.

Kelompok kedua ini menyodorkan sejumlah indikasi. Pertama, produksi padi tahun ini diproyeksikan kembali menurun seperti tahun lalu. Produksi padi periode Januari-Juni 2020 diperkirakan hanya 16,8 juta ton setara beras (BPS, April 2020), jauh lebih rendah dari periode yang sama tahun 2019 (18,61 juta ton) dan 2018 (20,17 juta ton).

Penurunan dua tahun berturut-turut ini tergolong cukup besar. Akibat penurunan ini, surplus produksi Januari-Juni 2020 diperkirakan hanya 1,8 juta ton beras, lebih rendah dari surplus produksi periode yang sama tahun 2019 (3,8 juta ton) dan 2018 (5,5 juta ton).

Kedua, musim panen raya tahun ini bergeser sebulan dari kondisi normal karena durasi kemarau lebih panjang. Kala situasi normal, panen raya berlangsung Februari-Mei. Tahun ini, panen raya berlangsung rentang Maret-Mei. Pergeseran musim ini berpotensi menurunkan luas tanam dan produksi musim tanam II atau musim gadu (Juni-September).

Apalagi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika juga memprediksi ada potensi musim kemarau lebih kering mulai Juni 2020 pada daerah sentra produksi pertanian, khususnya di sebagian Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi Selatan dan Bali.

Karena itu, musim tanam gadu menjadi perjudian maha penting apakah krisis beras bakal terjadi atau tidak, dan termasuk seberapa dalam krisis. Selama ini, 60%-65% produksi beras dihasilkan pada musim panen raya, disusul produksi pada panen gadu 30%-35% dan sisanya pada saat paceklik.

Kalau penurunan produksi pada panen raya kali ini terjadi juga di musim gadu, jumlah dan persentase penurunan akan amat besar. Secara nasional, hal ini berpeluang mengguncang pasar beras. Ujung-ujungnya krisis beras potensial meledak.

Semua tahu beras adalah pangan pokok semua perut warga. Partisipasi konsumsi beras oleh warga merata di seantero negeri. Dalam struktur pengeluaran rumah tangga, beras mendominasi: rerata 24% dari total pengeluaran.

Ketika harga beras naik lantaran pasokan seret dan terjadi perebutan di pasar, panic buying bakal terjadi. Hanya warga berkantong tebal yang bisa memborong beras. Tak terbayang bagaimana kondisi sosial-politik apabila itu terjadi. Bukan mustahil situasi 1997-1998 terulang.

Penting diingat, tatkala hampir seluruh negara di dunia berjibaku melawan Covid-19, termasuk negara-negara produsen beras, pasokan beras dari pasar dunia sepertinya tidak bisa diandalkan.

1 Comment

  1. Kebijakan untuk mencegah terjadinya krisis pangan secara meluas harus memperhatikan fenomena fenomena :
    1 harga beras stabil tinggi walaupun terjadi panen bahkan terjadi kenaikan relatif kecil. Ada pengaruh pandemi juga
    2. Proses distribusi juga relatif kurang lancar, didukung pembatasan kegiatan selama pandemi
    3. Bulog melaksanakan KPSH (ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga – semacam Operasi Pasar) dengan realisasi cukup besar selama 5 bulan terakhir. Rata rsta 120.000 ton per bulan. Sangat dimungkinkan realisasi KPSH tahun ini tembus 1,2 sd 1,5 juta ton.
    4. Realisasi pengadaan hampir tembus 0,5 juta ton yang efektif dijalankan BULOG 2 bulan terakhir, April Mei. Sangat dimungkinkan pengadaan tembus angka 1,5 juta ton apalagi kalau BULOG difungsikan lagi sebagai penyalur beras bantuan sosial.
    5. Harga pembelian pemerintah beras dan gabah petani sangat rendah dibawah harga di tingkat produsen.
    BULOG nampaknya telah menunjukkan fungsinya sebagai penyangga 3 pilar ketahanan pangan, stabilisasi melalui KPSH, ketersediaan melalui penumpukan stock hasil pengadaan 2020 dan keterjangkauan melalui movenas ke seluruh Nusantara. Sudah sewajarnya pemerintah memberdayakan kembali fungsi BULOG agar bisa efektif menyangga 3 pilar ketahanan pangan dan krisis pangan bisa lebih diminimalisir.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*