Belajar dari China, Negara dalam Bahaya Jika Tanpa BULOG

Kata-kata ini merupakan pengingat, agar kita harus menjadikan sejarah baik dari dalam negeri maupun luar negeri sebagai pembelajaran untuk diambil hikmahnya.

Diatas tadi telah diceritakan bagaimana China pada tahun 1960-an, namun pertanyaannya bagaimana dengan China sekarang. Apakah mereka juga belajar dari tragedy tersebut? ya, tentu saja mereka mengambil hikmah dari sejarah tersebut.

Sekarang, China sudah mereformasi sektor pertaniannya dengan empat pendekatan yakni kontrol pasar, efisiensi pertanian, pembatasan lahan yang berpotensi merugikan dan impor.

Selain mengimbanginya dengan teknologi untuk menjaga kualitas produk. Negara Tiongkok tidak sungkan-sungkan untuk menghabiskan miliaran dolar demi berinvestasi di sistem pengairan, benih, penggunaan robot, pengembangan peternakan serta perbaikan atas kerusakan akibat polusi.

Selain itu, penggunaan pesawat tak berawak massif digunakan untuk menyemprotkan pupuk dan bahan kimia serta menangkal hama dan penyakit tanaman.

Penggunaan teknologi bergerak untuk penanganan kebutuhan air dan pemberian dosis pestisida yang terpantau lewat computer juga telah diterapkan.

Terobosan lainnya yaitu China juga bermitra dengan banyak negara seperti Selandia Baru dan Australia untuk memproduksi keju, susu dan salmon asap.

Lalu dengan perusahaan Jepang memproduksi mie bebas minyak nabati. China bahkan diklaim memiliki teknologi mi instan paling maju di dunia saat ini.

Bahkan yang terbaru adalah China berambisi untuk menjadi lumbung pangan terbesar dunia yang mampu memberi makan bagi 9 miliar orang.

Cara yang China lakukan adalah dengan gencar membeli atau menyewa lahan pertanian di negara miskin dan berkembang seperti Asia, Afrika dan Amerika Selatan yang belum banyak memanfaatkan lahan untuk pertanian.

Hal ini dikarenakan rata-rata luas lahan pertanian yang digarap petani China kurang dari 1 hektare. China masuk Mozambik untuk memenuhi kebutuhan gandum. Tahun lalu cadangan gandum China di atas 600 juta ton.

Menyewa dan membeli lahan di sejumlah negara yang dinilai memiliki pertanian berbasis teknologi seperti di Amerika Serikat yakni di Missouri. Lalu, Brasil, Kamboja, dan Australia.

Luar biasa usaha pemerintah China, tidak hanya memikirkan perut rakyat sendiri namun urusan perut rakyat di dunia. Bagaimana dengan pemerintah Indonesia, apakah ada lembaga yang mengurusi pangan apalagi terkait control atau stabilisasi harga di pasar ?

Peranan BULOG dalam Stabilisasi Harga

Sebenarnya, kehadiran BULOG sebagai lembaga stabilisasi harga pangan telah memiliki arti khusus dalam menunjang keberhasilan Orde Baru sampai tercapainya swasembada beras tahun 1984.

Sebelumnya, fenomena rakyat antrian membeli beras karena langka dan harganya mahal terlihat jelas di jalan-jalan ibukota.

Berkat usaha keras dan perhatian sungguh-sungguh terhadap pangan, perlahan tapi pasti Negara Indonesia telah merubah wajahnya.

Negara pengimpor beras terbesar di dunia telah menjadi Negara pengekspor beras dan FAO pun mengakui hal tersebut.

Waktu itu, struktur organisasi BULOG diperkuat dengan sejumlah tugas dan wewenang. Tugas utama tersebut antara lain sebagai penunjang peningkatan produksi pangan lalu diperkuat menjadi buffer stock holder dan distribusi untuk golongan anggaran.

Selanjutnya tugas tersebut diperkuat kembali untuk melaksanakan pengendalian harga beras, gabah, gandum dan bahan pokok lainnya guna menjaga kestabilan harga, baik bagi produsen maupun konsumen sesuai dengan kebijaksanaan umum Pemerintah.

Pada tahun 1995, keluar Keppres No 50, untuk menyempurnakan struktur organisasi BULOG yang pada dasarnya bertujuan untuk lebih mempertajam tugas pokok, fungsi serta peran BULOG.

Oleh karena itu, tanggung jawab BULOG lebih difokuskan pada peningkatan stabilisasi dan pengelolaan persediaan bahan pokok dan pangan.

Tugas pokok BULOG sesuai Keppres tersebut adalah mengendalikan harga dan mengelola persediaan beras, gula, gandum, terigu, kedelai, pakan dan bahan pangan lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam rangka menjaga kestabilan harga bahan pangan bagi produsen dan konsumen serta memenuhi kebutuhan pangan berdasarkan kebijaksanaan umum Pemerintah.

Memasuki krisis moneter tahun 1997, titik balik pengelolaan pangan dimulai. Indonesia yang sudah mapan dalam tata pengelolaan pangan yang baik telah diusik dengan kepentingan Negara luar yang mengedepankan keuntungan bisnis semata.

Hal ini terlihat dari Keppres No. 45 tahun 1997, dimana komoditas yang dikelola BULOG dikurangi dan tinggal beras dan gula. Kemudian melalui Keppres No 19 tahun 1998 tanggal 21 Januari 1998, Pemerintah mengembalikan tugas BULOG seperti Keppres No 39 tahun 1968.

Selanjutnya melalu Keppres No 19 tahun 1998, ruang lingkup komoditas yang ditangani BULOG kembali dipersempit seiring dengan kesepakatan yang diambil oleh Pemerintah dengan pihak IMF yang tertuang dalam Letter of Intent (LoI).

Akhirnya berujung dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah RI No. 7 tahun 2003 BULOG resmi beralih status menjadi Perusahaan Umum (Perum) BULOG

Sehingga dengan perubahan penugasan kepada BULOG yang semakin sempit serta kewenangan yang terbatas, sudah dapat dipastikan gejolak pangan akan terjadi setiap saat.

Polemik pangan yang tidak berkesudahan dari tahun ke tahun serta kasus yang selalu sama dan berulang-ulang akan terus ada.

Namun semua kejadian itu dapat diatasi andaikan pemerintah berkomitment penuh untuk menjalankan kesepakatan yang sudah ada.

Terutama secepatnya dalam pembentukan Badan Pangan Nasional (Baca : Perkuat BULOG Jangan Dilemahkan). Sebenarnya, itu merupakan salah satu langkah konkret jika kita mengambil hikmah dan mau belajar dari Negara China.

Patut kita renungkan, kata-kata Henry Alfred Kissinger “Control oil and you control the nations; control food and you control the people”. Artinya, kontrol minyak maka Anda akan kendalikan negara; kontrol pangan maka Anda akan mengendalikan rakyat.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*