BPNT di Tengah Pusaran Mafia Pangan

BPNT kartu keluarga sejahtera bulog

Mereka akan semaunya menentukan harga gabah/beras dikarenakan tidak adanya pesaing dari pihak pemerintah. Peran yang sangat besar dari para mafia pangan tentu saja akan sangat sulit untuk diawasi oleh pemerintah. Jika sudah seperti itu, anjloknya harga gabah/beras pada tingkat petani sudah dapat dipastikan. Fenomena tersebut akan sulit untuk diatasi dan ini muaranya akan berimbas kepada kesejahteraan petani yang berujung kemiskinan merajalela di perdesaan.

  • Stabilisasi Harga di Tingkat Konsumen

Stabilisasi harga sangat dibutuhkan negeri ini dalam menjalankan aktivitas perekonomiannya. Beras merupakan makanan pokok yang sangat powerfull dan sudah menjadi rahasia umum sebagai lokomotif kenaikan harga pangan lainnya. Dengan sedikitnya jumlah gabah/beras yang diserap BULOG, ini berarti stok beras yang dikuasai oleh BULOG akan sedikit. Stok yang kecil akan membuat langkah BULOG dalam hal menstabilkan harga tidak akan menjadi leluasa. Program raskin/rastra dan operasi pasar merupakan senjata utama andalan pemerintah untuk menstabilkan harga beras di pasaran. Dengan hilangnya senjata utama rastra sebagai penstabil harga, dapat dipastikan harga menjadi tidak akan terkontrol. Kita harus ingat dan harus sadar bahwa beras merupakan golongan bahan makanan yang sangat besar menyumbang inflasi.

  • Pengentasan kemiskinan

Konsekuensi terakhir yang harus diterima adalah kemiskinan yang meningkat. Tidak adanya instrumen penstabil harga tentu akan menjadikan beras yang powerfull ini menjadi lokomotif dalam memimpin kenaikan harga-harga pangan yang lain.

Harga-harga yang sudah terlanjur meroket akan sulit dikendalikan, ibarat api yang sudah membesar akan sulit untuk dipadamkan. Tinggal kita tunggu saja api tersebut membakar bagian yang mana. Dalam hal ini, jika harga yang tinggi sudah tidak bisa dikendalikan lagi maka kerusuhan sosial lah yang akan muncul dan ini akan ditebus dengan obat yang sangat mahal harganya.

Inflasi yang tinggi akan membuat masyarakat kesulitan untuk membeli kebutuhan pokok, akibatnya adalah rakyat miskin di negeri ini justru akan bertambah banyak. Praktek kartel pangan yang dibongkar oleh KPPU merupakan fenomena gunung es. Hampir semua sektor pangan dikuasai, mulai dari produksi garam, industri minyak goreng maupun minyak curah, bawang putih, bawang merah, ayam potong hingga daging sapi.

Masih banyak kasus praktek curang pangan lainnya yang belum terbongkar. Semua kasus diatas mencerminkan struktur pangan sebenarnya di Indonesia yaitu struktur pangan yang tidak sempurna dan menjurus ke oligopoly yang membentuk kartelisasi.

Oleh karena itulah, sangatlah riskan jika pemerintah menyerahkan urusan pangan ke struktur pasar seperti yang terjadi sekarang. BPNT akan dilihat para pemain harga tersebut sebagai daya beli yang meningkat dari masyarakat. Secara teori daya beli yang tinggi akan mencerminkan permintaan yang tinggi pula.

Hukum ekonomi mengatakan bahwa “permintaan tinggi sedangkan supply tetap akan menggerek atau membuat harga menjadi tinggi”. Harga pangan yang tinggi tentu sangat bertentangan dengan perintah Presiden Jokowi yang meminta sejumlah menterinya agar menstabilkan harga sembako melalui pembentukan satgas pangan.

Semua pilihan tinggal tergantung kepada pemerintah, yang didalamnya berisikan para kaum intelektual dan terpelajar. Mau mengambil pelajaran dari sejarah, atau tetap maju membabi buta.

Pesan Bung Karno “JAS MERAH” jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, “pengalaman adalah guru yang terbaik”.

Artikel by Julkhaidar Romadhon

Kandidat Doktor Ilmu Pertanian Agribisnis Universitas Sriwijaya

Ketua Alumni Pasca Sarjana Agribisnis Universitas Sriwijaya

Sumber berita : Kompasiana

4 Trackbacks / Pingbacks

  1. RASTRA Diganti Bantuan Pangan Non Tunai, Hemat Rp 3,9 T – Berita BULOG Terkini
  2. BULOG Beberkan Fakta Mengejutkan Pembagian BPNT – Berita BULOG Terkini
  3. BPNT, Program Yang Layak Dikaji Ulang – Berita BULOG Terkini
  4. Miris, Cara Berpikir Mengenai Pangan (Bagian 1) – Berita BULOG Terkini

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*