Budi Waseso, Dirut Perum BULOG Kita Harus Mulai dari Swasembada Pangan

budi-waseso-buwas

Ketika ditunjuk menjadi Dirut Perum Bulog, 27 April 2018, Budi Waseso sempat pusing tujuh keliling.

Ia pelajari, sejak 2004 hingga awal 2018, semua kebutuhan pangan Indonesia masih diimpor.

“Waktu itu seluruh bahan pangan masih kita impor. Apalagi beras, yang menjadi kebutuhan pokok,” kenangnya.

Bagaimana mau mencapai kedaulatan pangan, pikirnya, jika ketahanan pangan, bahkan swasembada pangan saja kita tidak bisa?

Jika mau berdaulat pangan, kata Buwas – sapaan akrabnya – pertama Indonesia harus mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri. “Kita harus mampu berswasembada pangan,” ujarnya.

Baru setelah mampu berswasembada pangan, kita dapat menciptakan ketahanan pangan, dan selanjutnya memiliki kedaulatan pangan.

Logika inilah yang membuat ia berani mengambil keputusan tegas: menyetop impor beras. Langkahnya ini memang sempat dipertanyakan banyak orang, termasuk timnya di Bulog.

Mereka tak percaya Indonesia dapat begitu saja berhenti dari ketergantungan impor beras. Tapi Buwas bersikukuh menutup keran impor beras.

Ia meyakini swasembada pangan merupakan langkah awal menuju kedaulatan pangan, meski diakuinya perjalanan menuju ke sana masih panjang.

“Kita harus berani memulai,” katanya. “Kita masih harus membangun ketahanan pangan,” katanya.

Buwas memang tidak gentar. Sebagai mantan perwira tinggi polisi yang telah mengelilingi seluruh Indonesia, ia tahu benar Indonesia memiliki ribuan varietas padi lokal unggul yang dapat dikembangkan.

Mulai dari Cisadane dan Ciherang hingga rajalele dan pandan wangi yang terkenal pulen. “Kualitas beras kita tak kalah dari produksi Malaysia, Vietnam, atau Thailand,” ucapnya.

Pada 2019, Menteri Pertanian telah melepas beberapa varietas padi unggul, di antaranya Baroma (beras wangi), Pamelen (beras merah pulen), Pamera (beras merah), Paketih (padi ketan putih), Jeliteng (beras hitam), Inpari IR Nutri Zinc, Sembada Hitam, dan Sembada Merah.

Di panganandotcom, situs komersial Bulog, tersedia 96 merek beras medium hingga premium.

Sebagai negara agraris, Buwas melihat Indonesia begitu kaya akan umbi-umbian, padi-padian, kacang-kacangan, dan jagung yang menjadi sumber karbohidrat pengganti beras.

Kita juga punya sagu yang belum kita optimalkan. Cadangan sagu ini mencapai 450 juta ton, sementara kebutuhan kita setahun 30-35 juta ton.

“Jadi seharusnya tak ada masalah dengan ketahanan pangan,” katanya. Indonesia punya modal ketahanan pangan, punya potensi produksi yang luar biasa, sehingga tidak perlu lagi impor pangan.

“Bahkan kita dapat mengangkat derajat petani kita.”

Meski tak lagi mengimpor beras, menurut Buwas Indonesia belum dapat dikatakan berswasembada pangan. Pasalnya, Indonesia masih mengimpor kedelai, jagung untuk pakan ayam, dan beragam buah-buahan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*