BULOG Harus Bersaing dengan Kementerian Lain untuk Mendapatkan Beras

beras bulog antara foto

Meski begitu, Tri pun mengatakan BULOG masih berupaya terus menyerap beras tersebut. Setelah melakukan penyerapan di Juni, BULOG pun akan menyerap sekitar 700.000 ton beras lagi hingga akhir tahun.

Menurut Tri, saat ini petani yang sudah panen di bulan April-Mei, sudah mulai melakukan tanam untuk musim panen kedua.
Dengan begitu, pada akhir Agustus-Spetember akan ada panen kembali, walaupun produksinya lebih kecil dari panen yang pertama.

Adapun, hingga saat ini Perum BULOG masih memiliki stok beras sebanyak 1,4 juta ton.
Menurut Tri, pihaknya terus menjaga stok beras sebanyak 1 juta ton hingga 1,5 juta ton.

Pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas menilai, akan sulit bagi BULOG untuk mencapai target pengadaan sesuai dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan khususnya di sentra produksi beras seperti di Jawa dan Lampung.

Namun, dia pun mengatakan BULOG masih bisa mencapai target tersebut bila BULOG diberikan relaksasi yakni kelonggaran atau fleksibilitas harga 10%, khususnya di sentra produksi gabah.

“Kalau bisa diberikan relaksasi 10 persen untuk bisa menyerap di sentra produksi,” ujar Dwi kepada Kontan.co.id, Minggu (17/5/2020).

Menurut Dwi, berdasarkan hasil kajian Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), harga beras di tingkat usaha tani sudah mencapai Rp 9.300 per kg, sementara HPP beras sebesar Rp 8.300 per kg, lalu harga gabah di tingkat usaha petani sekitar Rp 4.400 per kg, sementara HPP gabah sebesar Rp 4.200 per kg.

Bila BULOG tidak diberikan relaksasi, Dwi berpendapat upaya yang bisa dilakukan adalah mencari gabah atau beras di wilayah lain yang bukan sentra produksi beras.

“Kalau tidak diberikan relaksasi, sulit [menyerap], kecuali bisa mendapatkan beras di lokasi remote, yang jauh, Itu masih ada kemungkinan,” kata Dwi.

Dwi pun membenarkan, bahwa saat ini memang ada petani yang menyimpan gabah/beras. Menurut dia, terdapat petani yang menahan berasnya untuk menunggu harga beras kembeli meningkat.

“Hampir 50 persen gabah/beras itu di tangan petani saat ini. Sebagian ditahan, menunggu harganya membaik. Sekarang belum membaik, sekarang ini harga turun terus, Rp 9.300 itu harga terendah,” kata Dwi.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “BULOG Harus Bersaing dengan Kementerian Lain untuk Mendapatkan Beras”, https://money.kompas.com/read/2020/05/18/140641026/BULOG-harus-bersaing-dengan-kementerian-lain-untuk-mendapatkan-beras?page=all.
Editor : Bambang P. Jatmiko

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*