BULOG Harus Bersaing dengan Kementerian Lain untuk Mendapatkan Beras

beras bulog antara foto

Perum BULOG saat ini tengah gencar mencari beras di daerah-daerah. Langkah ini sebagai upaya BULOG untuk menjaga pasokan beras.

Tahun ini BULOG menargetkan bisa menyerap beras 1,4 juta ton tahun ini. Sampai 16 Mei baru terserap 320.000 ton gabah setara beras.

Sampai akhir Juni nanti, BULOG menargetkan bisa menyerap hingga 650.000 ton beras, artinya BULOG harus mencari tambahan beras sebanyak 330.000 ton lagi.

Mengutip Kontan.co.id, Senin (18/5/2020), BULOG sendiri sudah mempunyai kontrak dengan para mitra, baik mitra besar dan kelompok tani.

Apalagi beberapa daerah sudah panen padi, seperti di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Jawa bagian Selatan.

“Dengan langkah ini kita harap bisa menyerap beras hingga 650.000 ton per hari,” kata Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum BULOG Tri Wahyudi Saleh kepada Kontan.co.id, Minggu (17/5/2020).

Namun untuk berjaga-jaga pasokan beras tidak sesuai harapan, BULOG juga punya satgas yang tetap turun ke lapangan untuk mencari gabah dan beras di daerah-daerah.

“Ini untuk back up. Kalau mitra gagal, kami puny kontrak lain dari non mitra yang berasal dari satgas tersebut,” jelas Tri.
Dengan strategi ini, BULOG BULOG optimistis bisa menyerap gabah dan beras seusai target. Keyakinan ini berkaca dari serapan beras BULOG perhari yang antara 10.000 ton – 15.000 ton per hari.

Apalagi saat ini panen padi masih berlangsung hingga Juni nanti. Meski begitu, Tri tak menampik adanya beberapa kendala yang dihadapi BULOG dalam menyerap gabas dan beras.

Kendala pertama berkaitan dengan harga beras yang masih tinggi dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Menurut Tri, meski produksi meningkat, tetapi permintaan juga tinggi dikarenakan banyak kementerian dan lembaga hingga organisasi masyarakat yang membutuhkan beras di saat pandemi Covid-19.

“Jadi banyak orang yang datang ke sawah, mereka juga membeli. Itu pesaing BULOG, tetapi tidak masalah, itu kan masyarakat juga,” kata Tri.

Kendala lainnya adalah banyak juga petani yang menahan gabah untuk kebutuhannya sendiri dan banyak petani yang sudah menggadaikan padinya lewat sistem ijon.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*