Harga Gula Melambung, BULOG Ajukan Impor 200.000 Ton

gula pasir bulog

Harga gula kristal putih (GKP) atau gula pasir konsumsi semakin melonjak. Per hari ini, harga gula berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) mencapai Rp 14.600 per kilogram (kg). Lalu, berdasarkan data Info Pangan Jakarta, harga gula per hari ini Rp 13.680/kg.

Sementara, harga acuan gula di tingkat konsumen yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 7 tahun 2020 yakni Rp 12.500/kg.

Untuk mengantisipasi harga semakin melonjak, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi mengusulkan agar pemerintah segera mengimpor GKP.

“Banyak pihak yang minta kalau Bulog harus punya stok (gula). Kita sampaikan itu ke rapat koordinasi (rakor) bahwa kami butuh untuk stabilisasi harga,” ungkap Tri di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, Rabu (19/2/2020).

Pasalnya, panen tebu untuk memenuhi kebutuhan produksi gula dalam negeri masih jauh, yakni setelah Hari Raya Idul Fitri yang jatuh di bulan Mei. Sedangkan, di bulan Ramadan dan Idul Fitri saja kebutuhan akan gula dipastikan meningkat.

“Ya panen kan setelah lebaran, panen tebu. Jadi kami mengusulkan untuk mendapat penugasan importasi gula,” kata Tri.

Baca juga : Buwas: BULOG Tetap Salurkan Beras untuk Rastra

Tri menjelaskan, impor gula sudah harus dilakukan karena saat ini harga komoditas tersebut telah mencapai Rp 14.500 per kilogram, sedangkan HET yang ditentukan yakni Rp 12.500 per kilogram.

Walhasil gula hasil impor tersebut nantinya akan digunakan untuk mengintervensi harga saat waktu menjelang Lebaran. “Harus kita turunkan,” tuturnya.

Oleh karena itu, kata Tri, keputusan impor gula ini harus segera ditetapkan pemerintah. Dia berharap dalam satu bulan ke depan bisa segera masuk ke Indonesia komoditi tersebut.

“Kan yang jadi persoalan menjelang lebaran itu. April-Mei, jadi harus masuk harus segera diputuskan,” tuturnya.

Ia mengusulkan agar volume GKP yang diimpor sekitar 200.000 ton. Namun, ia belum mengetahui negara asal impornya dari mana karena usulan ini belum disetujui oleh pemerintah.

“Tergantung, kita kita suplai dari mana,” ujar Tri.

Namun, usulan tersebut hingga kini belum dipenuhi oleh pemerintah. Keputusan impor atau tidaknya akan diputuskan dalam rapat koordinasi.

Perlu diketahui, Bulog saat ini tidak menyimpan stok gula. Tri menuturkan, pada tahun 2018 pihaknya pernah menyerap gula pasir dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), namun stok itu sudah habis.

Sebelumnya, Asosiasi Gula Indonesia mencatat bahwa kebutuhan gula konsumsi nasional tahun ini sebesar 3,16 juta ton. Akan tetapi, ketersediaan gula diprediksi hanya mencapai 3,13 juta ton sehingga terdapat defisit gula sekitar 29 ribu ton.

Ketersediaan gula sebanyak 3,13 juta ton itu terdiri dari produksi dalam negeri yang hanya 2,05 juta ton serta sisa stok 2019 sebanyak 1,08 juta ton. Meski defisit hanya 29 ribu ton, impor yang dibutuhkan bahkan dinilai perlu mencapai 1,3 juta ton untuk menutupi defisit sepanjang tahun sekaligus persediaan stok awal 2021.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*