Hingga Awal Juli, Realisasi Penyaluran Rastra Capai 97,7%

Beras-bulog

Kementerian Sosial (Kemensos) menyatakan, realisasi bantuan sosial beras sejahtera (Rastra) hingga Rabu (4/7) mencapai 288 ribu ton beras.

Penyaluran tersebut telah mencapai 97,7% dari target tahun ini. Direktur Jenderal Penanganan Fakir Miskin, Andi ZA Dulung mengatakan, Rastra tersebut disalurkan kepada 2,9 Juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Sedangkan penerima dana Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sudah mencapai 11,9 Juta KPM dari target 15,6 juta KPM.

Biarpun begitu, penyaluran Rastra masih terkendala di beberapa daerah, seperti di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Kendala terjadi lantaran data wilayah administratif desa hilang sehingga terjadi anomali distribusi data di desa lainnya.

Baca juga: Transformasi BULOG Sebagai Pelaku Pasar

Penyaluran Rastra juga terkendala di Kutai Barat dan Mahakam Ulu, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, Manggarai, dan Manggarai Timur (NTT) karena cuaca dan armada yang terbatas.

Selain itu, hambatan penyaluran terjadi di Pegunungan Bintang, Jayawijaya, Membramo Tengah, Tolikara, Puncak Jaya, Yalimo, Nduga, Lani Jaya, dan Puncak Papua karena masalah akses geografis dan transportasi. Kemensos pun terus berupaya untuk menangani masalah tersebut.

“Kendala-kendala ini perlu menjadi perhatian kita semua karena menyangkut hak keluarga miskin dan rentan,” ujarnya di Jakarta, Kamis (4/7).

Sebagai informasi, penerima bantuan Rastra mendapatkan jatah 10 kg beras per bulan. Selain itu ada juga bansos berupa BPNT sebesar Rp 110.000 per bulan yang ditransfer ke rekening penerima untuk membeli beras dan telur.

Pengamat Menilai Pengembalian Skema BPNT Jadi Rastra Sebuah Kemunduran

Wacana pemerintah menunda program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan akan kembali menerapkan program Beras Sejahtera (Rastra) semakin santer terdengar.

Kembali dilaksanakannya Rastra utamanya karena stok beras Bulog menumpuk tahun ini, stok tercatat sekitar 2 juta ton.

Menanggapi perubahan program ini, peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS ) Assyifa Szami Ilman mengungkapkan kekecewaannya. Ia menganggap perubahan program ini merupakan sebuah kemunduran.

Pasalnya, Ilman menganggap selama ini bantuan sosial (bansos) lewat BPNT jauh lebih membantu masyarakat ketimbang Rastra, karena penerima Rastra memiliki keterbatasan pilihan bantuan.

Lewat Rastra, penerima bantuan hanya mendapatkan jatah 10 Kg beras per bulan. Sementara, lewat BPNT bantuan yang disalurkan berupa dana sebesar Rp 110.000 per bulan yang ditransfer ke rekening penerima.

Lewat dana tunai sebesar Rp 110.000 per bulan ini, penerima BPNT bisa mengalokasikannya tidak hanya untuk beras saja, melainkan juga untuk kebutuhan pangan lain, seperti telur misalnya di elektronik warung gotong royong (e-warong), serta bebas memilih jenis dan kualitas barang.

“Selain mengalokasikannya ke bahan pangan lain selain beras, dengan BPNT penerima bisa mengalokasikan dana tersebut ke pendidikan atau hal lain yang juga diperlukan,” ujar Ilman kepada Katadata.co.id, Senin (13/5).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*