Jangan Biarkan Kaki BULOG Pincang

BERAS BULOG

Revitalisasi Bulog mendesak dilakukan untuk menciptakan harga komoditas pangan yang stabilitas dan tidak selalu gaduh.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) punya cita-cita yang belum terlaksana sejak lama, yakni harga pangan yang murah. Keinginan ini sudah menggelayut di benaknya sejak ia didapuk menjadi pemimpin negeri ini.

Namun harapan itu, sampai sekarang, belum juga terkabul. Padahal, berbagai instruksi untuk menstabilkan harga pangan, sudah diturunkan.

Mengapa demikian?

Benarkah ada mafia pangan?

Kalau dicium, baunya seperti itu. Coba saja lihat, setiap kali Kementerian Pertanian membuat kebijakan komoditas pertanian, saat itu pula muncul kegaduhan, mulai dari harga telur ayam sampai beras.

Diduga mereka yang “bermain” di sekitar ini adalah perusahaan perantara (middleman) yang sengaja mengatur harga komoditas pertanian dengan menimbun pasokan, serta perusahaan yang kerap menjual bibit dan pupuk palsu ke petani.

Anehnya, Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) tak luput dari sasaran kesalahan. Padahal kalau mau dicermati, ada kementerian-kementerian lain yang mengurusi masalah pangan, sementara sinerginya terlihat kurang menggigit.

Jadi, memang ada mafia pangan yang bermain dan lemahnya sinergi kementerian-kementerian dengan Bulog sehingga harga pangan kerap tidak dibisa dikendalikan.

Baca juga : Wawancara Khusus Dirut BULOG : Kami Menghadapi Pihak yang Gencar Menyuarakan Hal Buruk Soal BULOG

Dulu, di era Orde Baru, peran Bulog sangat sentral untuk mengendalikan harga pangan. Presiden Soeharto mengendalikan masalah pangan melalui peran Bulog dengan tiga pilar yang saling terkait.

Yaitu ketersediaan (availability), keterjangkauan (accessibility) dan stabilitas (stability) pangan, terutama komoditas beras.

Dia sangat ketat menjaga ketahanan pilar ini hingga kebutuhan pangan masyarakat selalu terjamin dengan harga terjangkau.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*