Kemensos: Beras Bulog Tak Bisa Diprioritaskan

stok beras bulog

Kementerian Sosial (Kemensos) meminta Perum Bulog untuk terus memperbaiki kualitas mutu beras yang diserap dari petani.

Hal itu seiring kendala yang dialami Bulog dalam menyalurkani beras akibat penerapan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

“Pada prinsipnya kita tetap buka pasar bebas karena BPNT tidak didesain seperti itu (prioritas beras Bulog). Tidak bisa lagi dikasih keistimewaan,” kata Direktur Jenderal Penanganan Fakir Miskin, Andi ZA Dulung kepada Republika, Selasa (5/3).

Andi menjelaskan, selama Bulog dapat menjual beras berkualitas dengan harga yang bersaing, maka dipastikan akan mampu berkompetisi dengan beras merk lain.

Masyarakat, kata dia, dengan sendirinya akan memilih beras Bulog jika sesuai dengan keinginan para penerima.

Pemerintah, tegas Andi, tidak akan mengutamakan beras Bulog dalam BPNT.

Meskipun, Bulog tengah mengalami masalah akibat kehilangan pasar setelah program Beras Keluarga Sejahtera (Rastra) perlahan diubah menjadi BPNT.

Pada 2018, penyaluran BPNT telah menjangkau 10,2 juta penerima yang berada di 219 kabupaten/kota.

Penyaluran dilakukan melalui lebih dari 80 ribu agen.

Memasuki 2019, Kemensos menargetkan penyaluran BPNT sudah dapat diterapkan 100 persen ke 15,6 juta keluarga penerima manfaat.

Artinya, ada sekitar 5,4 juta penerima baru BPNT yang tersebar di 295 kabupaten/kota.

Seiring target 100 persen itu, maka tugas Bulog untuk menyalurkan Rastra juga berkurang.

Tahun ini, Bulog hanya ditugaskan untuk menyalurkan 213 ribu ton Rastra kurun waktu Januari-April 2019.

“Sebanyak 96 persen masyarakat penerima BPNT puas dengan mekanisme ini. Harapannya, tahun ini Rastra sudah selesai,” kata dia.

Sejauh ini, evaluasi dari keberjalanan program BPNT yakni terkait jaringan internet di daerah terpencil. Program BPNT yang mengandalkan penuh sinyal internet menjadi hambatan para keluarga penerima manfaat.

Namun, ia mengklaim Kementerian Komunikasi dan Informatika sudah menyiapkan infrastruktur jaringan untuk kelancaran BPNT.

Andi menuturkan, selama 20 tahun terakhir, dimulai dari penyaluran Raskin hingga berubah nama menjadi Rastra kerap menemui masalah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*