Keterlibatan BULOG dalam BPNT Ciptakan Integrasi Hulu-Hilir

BERAS BULOG

Pengamat Pertanian Khudori menilai, pemerintah harus segera mencari outlet penyaluran terhadap beras Perum Bulog yang sudah diserapnya.

Sebab, beras merupakan komoditas yang tidak tahan lama, sehingga kerugiannya harus ditanggung.

Khudori menuturkan, penyerapan dan penyaluran beras masyarakat merupakan tugas dari negara, kerugian tidak hanya ditanggung Bulog, juga negara.

Menurutnya, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menjadikan Bulog sebagai suplai utama beras untuk Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

“Program ini merupakan peralihan dari beras sejahtera (rastra), dan membuat outlet hilir menjadi ada kembali,” ujarnya ketika dihubungi¬†Republika, Ahad (12/5).

Sejak program rastra perlahan dikonversikan menjadi BPNT pada 2017, penugasan publik kepada Bulog menjadi berkurang.

Padahal, menurut Khudori, kegiatan terbesar yang ditangani Bulog adalah penugasan publik dan sebagian besarnya merupakan komoditas beras.

Dalam angka, Bulog dapat menyalurkan beras untuk rastra pada 2016 mencapai 2,9 juta ton sampai 3 juta ton ekuivalen beras per tahun.

Angka tersebut menurun terus sampai sepertiganya pada 2018, yakni 1,2 juta ton. “Tahun ini, sisa 350 ribuan ton dan pertengahan tahun, semua akan dikonversikan ke BPNT,” ucap Khudori.

Menurut Khudori, konversi tersebut berat buat Bulog. Sebab, penyaluran secara komersil belum dapat dikembangkan, meski sudah dirintis sejak lama.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*