Kualitas dan Distribusi Beras Jadi Titik Berat BULOG

bpnt

Program bantuan pangan nontunai atau BPNT memberikan keleluasaan bagi konsumen dalam memilih beras.

Oleh sebab itu, kualitas dan distribusi beras menjadi titik berat bagi Perum Bulog yang baru saja mendapatkan akses 100 persen pada suplai BPNT dari Kementerian Sosial.

Menurut Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Bayu Krisnamurthi, langkah Kementerian Sosial meminta Bulog memasok semua kebutuhan beras dalam program BPNT merupakan kemajuan dalam struktur perberasan nasional dari hulu ke hilir.

“Namun, ada pekerjaan rumah teknis bagi Bulog untuk memahami selera konsumen BPNT. BPNT memberikan ‘kuasa’ bagi konsumen untuk memilih beras yang hendak dibeli,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (5/7/2019).

Dalam program BPNT yang dicanangkan sejak 2017 secara bertahap, setiap keluarga penerima manfaat (KPM) mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah Rp 110.000 per bulan melalui rekening bank.

Baca juga : Pastikan Beras BULOG Terbeli dalam Bantuan Pangan Non Tunai

Mereka bisa membelanjakan uang itu menggunakan kartu uang nontunai di E-warong untuk membeli beras saja, telur saja, atau keduanya.

Hal ini berbeda dengan program beras sejahtera (rastra) yang menjadi mekanisme penyaluran cadangan beras pemerintah (CBP) sebelum ada BPNT.

Dalam program rastra, Bulog menyalurkan CBP sekitar 230.000 ton tiap bulan langsung kepada seluruh keluarga penerima manfaat bantuan sosial. Artinya, KPM sebagai konsumen tidak memiliki pilihan beras lain selain Bulog.

Pemahaman konsumsi

Dalam meraih pasar dalam program BPNT, Bayu berpendapat, kesinambungan antara kualitas dan pemahaman Bulog terkait selera beras KPM di daerah setempat menjadi kunci.

Dampaknya, Bulog mesti menyerap gabah yang sesuai kualitas dengan selera pasar tersebut.

Saat ini, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh mengatakan, penyerapan gabah menjadi prioritas Bulog.

Baca juga : Kebijakan Baru Mengungkit Penyerapan Gabah dari Petani 

“Kami akan menggiling (gabah) sesuai dengan permintaan E-warong, baik dari segi kualitas maupun waktu sehingga E-warong bisa mendapatkan beras yang segar karena baru digiling. Kami juga siapkan ragam rasa dan tekstur beras agar sesuai dengan selera pasar. Paling tidak, kami memiliki beras pulen dan beras pera,” tuturnya, Jumat.

Pada dasarnya, beras yang disalurkan lewat BPNT berupa CBP berkualitas premium.

CBP yang berasal dari pengadaan dalam negeri tahun ini menjadi prioritas. Untuk memberikan variasi pilihan beras pada konsumen, mekanisme pengolahan beras Bulog menjadi ujung tombak.

Serapan lokal

Saat ini, Tri mengatakan, Bulog tengah mengadakan rakor teknis dengan kepala-kepala divisi regional yang jadi penopang penyerapan dan penyaluran di daerah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*