Lebih Besar, Bulog Targetkan Operasi Pasar 1,48 Juta Ton Beras di 2019

Operasi-pasar

Pemerintah menargetkan Perum Bulog dapat menggelar operasi pasar pada tahun ini sebanyak 1,48 juta ton, naik signifikan dibanding realisasi operasi pasar tahun lalu sebesar 528 ribu ton.

Kebijakan itu merupakan penugasan pemerintah dalam rangka menjaga ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga beras.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog Tri Wahyudi Saleh menyatakan Kementerian Perdagangan sudah memberi penugasan untuk  periode Januari hingga Mei 2019 dengan volume distribusi 15 ribu ton per hari.

“Sampai sekarang penyalurannya baru sekitar 2 ribu ton sehari, tetapi harga masih terjaga,” kata Tri di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (14/2).

Menurut data Bulog, hingga 13 Februari 2019 realisasi operasi pasar  perseroan sudah mencapai 141.797 ton.

Namun, realisasi tersebut masih jauh dari target operasi pasar yang ditetapkan semula untuk periode yang sama yaitu sekitar 834.233 ton.

Terkait minimnya serapan ini, Tri mengatakan kendalanya ada pada harga tinggi pada Januari dan Februari karena panen yang masih minim.

Antisipasi  ketersediaan pasokan dan stabilitasi harga beras medium itu berdasarkan Surat Menteri Perdagangan Nomor 2/M-DAG/SD/1/2019 tanggal 2 Januari 2019.

Menurut Tri, pemerintah juga harus mewaspadai potensi kenaikan harga pada bulan Mei sampai Agustus karena kenaikan harga seiring dengan adanya hari besar keagamaan nasional.

Berdasarkan asumsi Bulog, harga beras bisa mencapai level Rp 12 ribu jika tidak ada upaya stabilisasi harga.

Selain itu, pemerintah juga harus mewaspadai kenaikan harga pada November sampai Desember karena musim paceklik. “Perlu antisipasi potensi kenaikan harga dari pemerintah,” ujarnya.

(Baca: Bulog Operasi Pasar 500 Ribu Ton pada 2018, Terbesar dalam 5 Tahun)

Penugasan dari pemerintah juga menjadi faktor penting karena skema penyaluran Bulog telah bergeser dari Rastra (Beras Sejahtera) menjadi Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT). Sehingga volumenya juga berkurang jauh dari 2,7 juta ton menjadi hanya sekitar 213 ribu ton.

Sementara itu, Pengamat Pangan dan Pertanian Bayu Khrisnamurti menyebutkan dalam menetapkan kebijakan,  pemerintah harus memperhatikan kondisi wilayah secara spesifik serta meningkatkan produktivitas pertanian dengan teknologi.

Tujuannya, supaya Bulog tidak menjadi satu-satunya instrumen pemerintah dalam menjaga stabilitas harga.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*