Mengapa Bulog Kritik Pemerintah Soal Beras?

bulog3

PERUSAHAAN Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) meminta pemerintah memperhatikan penyalurannya.

Selama ini Bulog masih kesulitan menyalurkan hasil serapannya.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh mengatakan, pemerintah tidak imbang dalam hal penugasan.

Pemerintah meminta Perum Bulog menyerap beras petani dan impor, namun hasil serapan tersebut tidak bisa disalurkan ke pasar.

Laman bumn.go.id menuliskan, penyaluran hasil serapan semakin sulit setelah pemerintah mengalihkan sebagian besar bantuan sosial (bansos) beras sejahtera menjadi bantuan pangan non tunai (BPNT).

Hal tersebut membuat stok beras hasil serapan menumpuk di gudang milik Bulog.

Baca juga : Bulog Beberkan Penyebab Busuknya Ribuan Ton Beras di Sumsel

Bulog sendiri diberi penugasan oleh Kementerian Pertanian untuk menyerap setidaknya 10 % atau sekitar 1,4 juta ton beras di awal 2019.

Hal tersebut setelah munculnya klaim data bahwa potensi produksi beras per Januari hingga Maret mencapai 14,2 juta ton.

Adapun masing-masing rincaiannya adalah sebesar 2,4 juta ton pada Januari, kemudian 4,5 juta ton pada Februari. Sementara pada Maret 2019 potensi produksinya mencapai 7,3 juta ton.

“Kalau Bulog sudah membeli untuk kemudian disimpan di gudang Bulog, untuk apa kalau tidak disalurkan. Makanya Pak Buwas (Dirut Bulog) sedang sibuk mencari pasar di luar negeri untuk ekspor. Apakah bisa diterima dari sana atau tidak nanti kita lihat kualitasnya,” ujarnya kepada bumn.go.id di Jakarta, Rabu (13 Januari).

Tri menjelaskan, mengenai penyaluran pemerintah sendiri tidak memberikan penugasan untuk menyuplai beras kepada warung-warung, melainkan BPNT yang ditunjuk sebagai penyalur.

Baca juga : Tata Kelola Lemah, Rencana Ekspor Beras Bulog Dipertanyakan

Hal tersebut juga yang membuat Bulog kehilangan banyak pasar sehingga stok yang ada di gudang tidak tersalur dengan lancar.

Karena itu lanjut Tri, pihaknya harus memutar otak lebih keras untuk mengeluarkan stok tersebut.

Seperti misalnya degnan melakukan operasi pasar dimana setiap harinya perseroan akan mengeluarkan stok sebanya 3.000 ton.

“Program boleh beda tapi kalau bisa sumber berasnya tetap sama,” ujar Tri.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*