Mengembalikan Peran BULOG

Pemerintah menetapkan Perum Bulog sebagai pengelola pasokan bahan pangan program bantuan pangan nontunai untuk mem- bantu fungsi stabilisasi harga.

Keputusan tersebut diambil dalam rapat koordinasi antara Kementerian Sosial dan Perum Bulog pada Kamis lalu.

Dengan memberikan hak penuh untuk mengelola pasokan pangan dan memasok 100 persen beras untuk program bantuan pangan nontunai (BPNT), Bulog punya jalan keluar untuk menyalurkan cadangan berasnya.

Jalan keluar yang diambil pemerintah memperlihatkan perlunya kembali mendefinisikan tujuan keberadaan Bulog.

Melalui Peraturan Presiden Nomor 48 Tahun 2016 tentang Penugasan kepada Perum Bulog dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional, pemerintah menugaskan Bulog menjaga ketersediaan dan stabilisasi harga pangan pada tingkat konsumen dan produsen untuk beras, jagung, dan kedelai.

Baca juga : Kualitas dan Distribusi Beras Jadi Titik Berat BULOG

Tugas lain Bulog, mengamankan harga pangan di tingkat produsen dan konsumen, mengelola cadangan pangan pemerintah, menyediakan dan mendistribusikan pangan, jika diperlukan melakukan impor, mengembangkan industri berbasis pangan, serta mengembangkan pergudangan pangan.

Harus diakui, Bulog belum dapat menjalankan fungsi tersebut sepenuhnya. Bulog pada awalnya lebih berorientasi pada konsumen, yaitu menyediakan pangan (beras) murah.

Saat itu, Indonesia masih kekurangan produksi beras sehingga impor menjadi jalan keluar. Infrastruktur yang dibangun mengikuti kebutuhan tersebut.

Pergudangan ada di dekat pelabuhan dan kota. Ketika Indonesia berhasil swasembada beras pada pertengahan 1980-an, pemerintah melengkapi Bulog dengan lantai jemur gabah dan penggilingan padi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*