Menguji Realisasi Mimpi Bulog

beras Bulog

Kendati demikian, menurut dia, jadi atau tidaknya ekspor ini tetap tergantung pada produksi beras nantinya.

Belum sampai pagi tiba, mimpi Buwas itu sudah keburu dibantah oleh pelaku pasar. Direktur Utama Food Station Tjipinang Jaya yang mengelola Pasar Induk Beras Cipinang meragukan realisasi impian Buwas tadi. Alasannya adalah tingkat kebutuhan beras nasional.

Sebagai pelaku pasar, perusahaan seperti Food Station Tjipinang lebih paham mengenai kondisi lapangan. Mereka tidak mau berpegang pada data saja, seperti yang dilakukan oleh Buwas tadi.

Bila mengacu pada data beras saja, maka kita tidak akan mengimpor beras seperti tahun lalu.

Karena mengacu pada data beras versi Kementerian Pertanian (Kementan) ), jumlah produksi beras nasional tahun kemarin mencapai 80 juta ton atau setara 46,5 juta ton beras. Sementara jumlah konsumsi masyarakat sekitar 33,46 juta ton.

Adanya selisih berupa surplus sekitar 13 juta ton itu, harusnya membuat kita tidak perlu impor. Tapi nyatanya, pemerintah tetap mendatangkan beras dari luar negeri.

Harganya di akhir tahun lalu juga masih sempat berfluktuasi.

Oleh karena itu, mari kita berharap para pelaku pasar tidak terlena dengan mimpi Buwas belaka. Karena bisa berdampak buruk. Bisa saja ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, lantas menimbun stok beras.

Sehingga ketika Bulog benar-benar jadi mengekspor beras, akan terjadi kekurangan stok di dalam negeri.

Dan para oknum tadi bisa menikmati selisih harga dari beras yang sudah mereka timbun sebelumnya. Semoga kita dijauhkan dari keculasan semacam itu.

Sumber : https://www.kompasiana.com/taofikroby/5c4aaf2ec112fe61c620b432/menguji-realisasi-mimpi-bulog

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*