Menyibak Fenomena Kenaikan Harga Beras

beras bulog indonesia

Yang terjadi adalah, pemerintahan waktu itu sudah belajar dari krisis jilid pertama pada tahun 1998. Rastra dilahirkan sebagai resolusi untuk mengatasi kriris moneter dan pangan yang sudah memporak-porandakan sendi perekonomian bangsa.

Rastra yang merupakan salah satu jaring pengaman sosial dinilai sangat efektif membantu perekonomian masyarakat bawah yang terkenal dengan daya belinya yang rendah.

Logikanya, tanpa krisis saja mereka daya belinya rendah apalagi terkena krisis sungguhan. Pada tahun 2008, justru pemerintah menambah pagu rastra dimana semula tahun 2007 sebanyak 15,7 juta RTS menjadi 19,1 juta RTS. Dari rastra dengan alokasi sebanyak 12 bulan menjadi 15 bulan alokasi.

Jumlah sasaran ini, merupakan jumlah sasaran tertinggi selama RASTRA disalurkan dan mencakup semua rumah tangga miskin berdasarkan hasil pendataan program perlindungan sosial tahun 2008. Semua ini dilakukan guna meredam gejolak krisis global agar dampaknya tidak begitu terasa bagi masyarakat.

Baca : Kesaktian Rastra

Kenaikan harga beras yang terus-menerus harus cepat dan segera diantisipasi. Imbas yang paling ditakutkan adalah kepada rakyat kecil dan miskin yang daya belinya sudah rendah. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah memiliki dua pilihan. Pertama, mengatasi sisi supply (pasokan) dan kedua menanganinya dari sisi demand (permintaan).

Permasalahannya sekarang adalah banyak pihak telah meragukan sisi pasokan. Mereka mempertanyakan data produksi yang mengatakan pasokan cukup dan aman untuk beberapa bulan ke depan. Data produksi subjektif yang terus diperdebatkan sampai dengan sekarang.

Baca : Mempertanyakan Produksi Beras

Lalu bagaimana dengan sisi permintaan? ada dua opsi yang bisa dilakukan pemerintah pada sisi ini; pertama menyalurkan rastra serentak diseluruh daerah dan kedua melakukan operasi pasar secara massif.

Biasanya momen kenaikan harga beras muncul ketika hari besar keagamaan, masa paceklik, hingga akhir tahun. Untuk mengatasi hal itu, pemerintah selalu mengandalkan senjata pamungkasnya yang bernama “operasi pasar”.

Dengan sekejap kota-kota yang mengalami kenaikan harga, akan dibanjiri dengan komoditas dengan harga di bawah harga pasar. Operasi pasar ini ada dua jenis (1) Penyaluran Beras Sejahtera (Rastra) yang secara filosofi sebenarnya bentuk intervensi pemerintah dari sisi permintaan dan (2)  Operasi pasar, yang merupakan senjata pemerintah untuk menstabilkan harga dari sisi supply atau penawaran.

Baca : BULOG dan Operasi Pasar

Opsi pertama, pemerintah justru sekarang sudah mempersiapkan penggantinya yaitu Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang mekanismenya diserahkan kepada pasar. Sedangkan opsi kedua, pemerintah juga sudah melakukannya sekarang secara massif dan besar-besaran.

Namun, apa yang terjadi ternyata harga tetap saja bertengger tinggi dan tidak mau turun kembali. Penyebabnya, karena harga yang ditawarkan sedikit lebih rendah dari harga beras di pasaran dan tentu sangat menyulitkan masyarakat miskin yang daya belinya sudah rendah.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh pemerintah sekarang? Sebenarnya solusinya mirip dengan kejadian waktu lalu. Sebelum harga benar-benar terlanjur naik, pemerintah seharusnya menambah jatah rastra di masyarakat.

Dengan penambahan bulan alokasi yaitu untuk bulan ke 13, 14 dan seterusnya hingga harga benar-benar mampu teredam. Namun jika sudah melewati akhir tahun, opsi yang cepat adalah dengan menyalurkan rastra untuk beberapa bulan alokasi serentak di seluruh Indonesia.

Lalu pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan stock beras pemerintah di BULOG yang sudah menipis sedangkan panen yang digadang-gadang tidak kunjung datang.

Disisi yang lain, beras disalurkan untuk rastra beberapa bulan pada bulan Januari yang tentu akan menguras stock beras.

Opsi dan jalan terakhir yang bisa ditempuh, yang sangat genting dan penting, mau tidak mau yaitu dengan menambah pasokan dari luar.

Isu yang tidak popular namun jika melihat situasi seperti ini dan untuk kepentingan bangsa yang lebih besar tentu tidak masalah.

Artikel by JULKHAIDAR ROMADHON, Kandidat Doktor Ilmu Pertanian Universitas Sriwijaya

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*