Perluasan BPNT, Perum BULOG Harus Putar Otak

bpnt bulog

Perluasan bantuan pangan non tunai atau voucher pangan menjadi 10,08 juta keluarga penerima manfaat secara bertahap pada 2018 menjadi salah satu tantangan utama pada bisnis Perum BULOG.

BUMN sektor pangan itu memperoleh alokasi penyaluran bantuan sosial beras sejahtera (rastra) sebesar 960.000 ton pada 2018, turun cukup signifikan dibandingkan dengan 2017 yang sebanyak 2,5 juta ton.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum BULOG Karyawan Gunarso mengatakan perluasan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) menjadi tantangan besar bagi BULOG di tahun depan karena perusahaan kehilangan outlet penyaluran.

Karyawan menyampaikan dalam program BPNT, BULOG tidak memiliki kewajiban untuk suplai produk pangan ke outlet BPNT. Suplai ke outlet BPNT diserahkan ke mekanisme pasar.

“Tahun lalu, BULOG diminta menyerap gabah petani 3,2 juta ton – 3,7 juta ton. BULOG belum mengetahui tahun depan diminta menyerap berapa,” kata Karyawan, dalam paparan Lokakarya Review Kebijakan Stabilisasi Pangan (Beras) 2017 Sinkronisasi Program BPNT dan Ketahanan Pangan di Jakarta.

Padahal selama ini, kata dia, proses bisnis BULOG terintegrasi sejak dari hulu ke hilir. Di hulu, BULOG melakukan pembelian di tingkat petani rata-rata 2,5 juta ton – 3 juta ton per tahun.

Penyerapan oleh BULOG memberikan jaminan harga di tingkat petani. Beras medium dengan derajat patahan 20% dan menir 2% disalurkan melalui program rastra sesuai Inpres No. 5 Tahun 2015.

Sejatinya, Karyawan meyakini program rastra dan operasi pasar menjadi instrumen tepat dalam stabilisasi pangan di tingkat hilir.

Sejak Oktober, BULOG melakukan operasi pasar ke 198 pasar seiring dengan harga beras medium yang cenderung meningkat. Di DKI Jakarta, stabilisasi harga dilakukan secara single window oleh Food Station.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*