Petani Berisiko Gagal Panen, BULOG Diminta Maksimal Serap Beras

petani gurem

Musim kemarau sejak bulan April 2019 diprediksi akan berlangsung dalam waktu yang lama. Hal ini berpotensi menimbulkan dampak pada naiknya permintaan beras.  Pada musim kemarau, petani berisiko untuk gagal panen.

“Tidak sedikit juga petani yang memilih untuk tidak menanam padi. Ini akan memengaruhi hasil penyerapan beras yang dilakukan Bulog,” ungkap Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania dalam keterangan tertulis, Minggu (14/7).

Galuh mengatakan, Bulog harus memikirkan strategi agar harga beras tidak melonjak lantaran demand (permintaan) tidak sebanding dengan supply (penawaran).

Menurut dia, salah satu langkah nyata yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan operasi pasar yang pelaksanaannya sudah diperpanjang hingga akhir tahun 2019.

“Beras-beras yang ada di gudang Bulog harus dapat dimanfaatkan untuk operasi pasar di tengah musim kemarau ini. Namun, kualitasnya harus tetap diperhatikan,” ujarnya.

Baca Juga: ”Quo Vadis” Operasi Pasar Beras

Selain memerhatikan kualitas, kata Galuh, pemerintah juga dapat melihat harga sebagai parameter untuk mengukur ketersediaan beras di pasaran. Saat harga naik, tentu ada supply yang berkurang.

“Hal ini seharusnya dapat dijadikan acuan saat akan memutuskan kebijakan,” jelas Galuh.

Galuh melanjutkan, pemerintah juga harus merancang rencana cadangan kalau operasi pasar belum mampu meredam lonjakan harga beras di pasar. Beras yang sepenuhnya diserap akan dibeli dengan harga minimal HPP.

Namun, kata Galuh, sayangnya nilai HPP terlalu rendah karena harga di pasar selalu jauh lebih tinggi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*