Stok Beras Menumpuk di Gudang, Pengamat: Perlu Outlet Baru

stok bulog

Pengamat Pertanian Khudori menyatakan, harus ada solusi hilir untuk menyelesaikan permasalahan menumpuknya stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang menumpuk di gudang Perum Bulog.

Solusi tersebut adalah menambah outlet penyaluran beras dengan mewajibkan para penerima bantuan pangan non tunai (BPNT) untuk membeli beras Bulog di outlet ataupun warung.

Khudori mengakui, outlet penyaluran melalui skema tersebut tidak lebih besar dibanding dengan skema pada program beras misin (raskin) dan beras sejahtera (rastra).

Sementara skema BPNT hanya mampu menyalurkan sekitar 2 juta ton per tahun, raskin dan rastra dapat mencapai 3 juta ton per tahun.

“Tapi, setidaknya itu sudah cukup sebagai outlet penyaluran,” ujarnya ketika dihubungi Republika, Senin (4/3).

Selama ini, masyarakat penerima BPNT dapat membeli beras ke pasar atau beras yang bukan hasil serapan Bulog.

Artinya, Khudori menjelaskan, mereka menjadi konsumen baru yang selama ini tidak pernah ke pasar, menjadi harus ke pasar setelah menerima BPNT.

Baca juga : Kemensos: Beras Bulog Tak Bisa Diprioritaskan

Dengan skema yang ditawarkan Khudori, Bulog memiliki tantangan tersendiri.

Mereka harus dapat memastikan bahwa beras yang dijual di outlet dan warung Bulog memiliki kualitas bagus.

Sebab, permasalahan utama saat program raskin dan rastra terdahulu adalah jeleknya kualitas beras yang ditawarkan.

Tapi, Khudori menilai, tantangan tersebut masih lebih mudah dilalui Bulog dibanding dengan harus mengurus stok CBP yang melimpah.

Pada tahun ini, setidaknya Bulog masih menyisakan stok 2,2 juta ton beras yang belum terserap pada 2018.

Jumlah tersebut harus ditambah dengan penyerapan dalam negeri yang ditargetkan Bulog mencapai 1,8 juta ton pada tahun ini.

“Berarti setidaknya ada 4 juta ton CBP di gudang Bulog sampai akhir tahun,” katanya.

Baca juga : Rastra Akan Jadi Bantuan Non Tunai, Beras Bulog Terancam Rusak

Menurut Khudori, saat ini tidak terjadi sinkronisasi antara penugasan Bulog di hulu dan hilir.

Pada hulu, Bulog diwajibkan untuk menyerap beras dari petani sebanyak-banyaknya. Sedangkan, di hilir, outletnya kini hanya bergantung pada operasi pasar (OP).

Sebelumnya, Bulog ditugaskan menyalurkan sekitar 3 juta ton beras rastra untuk 10 juta keluarga penerima manfaat (KPM).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*