Sumardjo Gatot I, Dirjen Tanaman Pangan: Kita Harus Percayakan Data Pangan ke BPS

Sumardjo Gatot Irianto

Polemik data pangan kembali mencuat beberapa waktu lalu. Kisruh dan perbedaan pendapat ini melibatkan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), Kementerian Perdagangan (Kemdag), dan Kementerian Pertanian (Kemtan).

Selama ini, data Kemtan dan Kemdag soal pangan kerap tak sinkron. Ini yang sempat menyulut perdebatan terbuka antara Kemdag dengan Perum Bulog.

Kemdag menilai, impor beras perlu karena produksi menurun, tapi Bulog justru menilai stok sudah penuh. Di sisi lain, Kemtan mengklaim produksi beras selalu melebihi kebutuhan setiap bulannya.

Pemerintah akhirnya akan menyatukan data produksi dan kebutuhan pangan di Badan Pusat Statistik (BPS). Dengan begitu, Kemtan dan kementerian lain terkait pangan tidak membuat data sendiri.

Rencana itu seiring dengan niat pemerintah membentuk data tunggal pangan. Nantinya, data tersebut akan jadi acuan semua pihak.

Pembentukan data tunggal pangan juga menjadi usulan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) untuk menghindari perbedaan data yang sering terjadi antarkementerian dan lembaga.

Bagaimana rencana pemerintah menuju data tunggal pangan?

Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan Kemtan Sumardjo Gatot Irianto membeberkannya kepada wartawan Tabloid KONTAN Ragil Nugroho, Rabu (31/10) lalu. Berikut nukilannya:

KONTAN: Kenapa data pangan bisa berbeda-beda?

GATOT: Sebenarnya, tidak bisa dikatakan berbeda juga. Dari dulu, data pangan disediakan BPS. Kenapa? Karena mereka punya satuan kerja (satker) di daerah-daerah juga memiliki kapasitas.

BPS sudah sejak lama menggunakan metode eyes estimate kemudian mengolah dan merilis data pangan. Data itu yang digunakan semua instansi termasuk Kementerian Pertanian.

Nah, sejak 2016, BPS tidak lagi merilis data karena sedang menggunakan dan menyempurnakan metode baru yakni Kerangka Sampel Area (KSA).

Sejak itu, BPS memutuskan tidak mempublikasikan secara resmi. Data yang ada di halaman situs Kemtan, sepenuhnya diambil dari data internal BPS.

KONTAN: Terus, kenapa Kemtan tidak melakukan pengukuran dan penghitungan data pangan sendiri?

GATOT: Karena memang, fokus kami tidak di situ. Lagipula, sudah diamanatkan oleh pemerintah kepada BPS untuk penghitungan data pangan.

KONTAN: Memang, apa, sih, KSA dan keunggulannya?

GATOT: KSA didefinisikan sebagai teknik pendekatan penyampelan yang menggunakan area lahan sebagai unit enumerasi. Sistem ini berbasis teknologi sistem informasi geografi (SIG), penginderaan jauh, teknologi informasi, dan statistika.

Intinya, memanfaatkan satelit Landsat-8 untuk memantau data luas tanam dan panen padi secara detail sebaran spasial juga data tabular. Data citra satelit tersebut beresolusi 1 pixel yang setara 30×30 m dan resolusi temporal 16 hari sekali.

Keunggulan KSA adalah lebih praktis, efisien, dan cepat, serta dimutakhirkan setiap 16 hari sekali. Dengan metodologi ini, BPS juga bisa menghitung potensi produksi beras dalam tiga bulan ke depan.

Sebab, data luas panen padi akan terus di-update setiap bulan. BPS pun yakin, perhitungan potensi tiga bulan mendatang juga lebih akurat ketimbang data Angka Ramalan (Aram) yang dulu terus digunakan mereka.

KONTAN: Untuk mengakhiri perbedaan data pangan, apa yang Kemtan lakukan?

GATOT: Seperti yang saya bilang tadi, publik terlalu membesar-besarkan permasalahan ini. Jangan sampai kita diadu domba antara lembaga dan menciptakan kegaduhan. Semangatnya ke depan: perbaikan.

Yang jelas, saat ini sudah ada kebijakan satu data yang dikoordinasikan dengan BPS. BPS sudah menyusun roadmap untuk memperbaiki data pangan.

Perbaikan data dikoordinasikan dengan BPS dan dilakukan bersama Kemtan, Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Badan Informasi Geospasial (BIG), serta Badan Pertanahan Nasional (BPN).

KONTAN: Jadi, semua kementerian dan lembaga termasuk Bulog kelak hanya merujuk ke data BPS?

GATOT: Betul. Karena secara kelembagaan BPS punya wewenang dan kapasitas.

KONTAN: Setelah satu pintu di BPS, apa peran Kemtan untuk data pangan?

GATOT: Dari dulu kami sudah punya tugas yang jelas. Mulai perumusan dan penetapan kebijakan di bidang penyediaan prasarana dan sarana pertanian, peningkatan produksi padi, jagung, kedelai, tebu, daging, dan pertanian lainnya, serta peningkatan nilai tambah, daya saing, mutu, dan pemasaran hasil pertanian.

Lalu, kami juga yang bertanggungjawab pada pelaksanaan teknis di lapangan. Intinya, fokus utama kami adalah menjaga produksi pertanian dan ketahanan pangan.

KONTAN: Untuk memastikan data yang ada di BPS valid, bagaimana caranya?

GATOT: Kita harus percayakan kepada BPS, karena selain memiliki payung hukum, mereka jelas memiliki perangkat yang bisa memastikan data tersebut valid. Adapun untuk perbaikan metode, ini merupakan perkembangan teknologi yang tentu harus diadopsi untuk kepentingan nasional.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*