Tantangan BULOG 2018

Akhirnya instrumen untuk pengendalian harga beras diperjelas oleh Menteri Perdagangan, yakni menggunakan pola operasi pasar oleh Perum BULOG, dibarengi pemantauan stok oleh Kementerian Perdagangan bersama Satuan Tugas Pangan (Kompas, 3/11).

Dengan instrumen operasi pasar ini akan tetap ada instrumen pasangannya, yaitu pengadaan dan stok penyangga.

Tulisan ini khusus menyoroti tantangan pengadaan BULOG 2018 sebagai salah satu penugasan oleh pemerintah yang biasa disebut public service obligation (PSO).

Tantangan adalah sesuatu yang berat dan sulit untuk dilaksanakan. Penugasan pengadaan BULOG 2018 akan sulit dilaksanakan karena adanya kendala berat yang cenderung kronis.

Kendala tersebut, pertama, tingkat harga gabah/beras yang tinggi pada musim paceklik (Desember, Januari) disertai tingkat sisa persediaan (carry over stock) yang tipis di masyarakat.

Kedua, tingkat harga beli BULOG yang rendah dan belum jelasnya jumlah anggaran PSO untuk operasi BULOG.
Ketiga, prospek produksi padi 2018.

Tingkat harga pasar

Harga per kilogram (kg) gabah kering panen (GKP) di daerah Sragen, Ngawi, dan Madiun yang panen awal November ada pada kisaran Rp 4.900-Rp 5.300.

Bahkan di Indramayu mencapai Rp 5.500 (Kompas, 15/11), tingkat harga yang tertinggi selama ini. Dengan tingkat harga GKP tersebut, dampaknya gabah tidak cocok diolah menjadi beras kualitas medium karena dibatasi harga eceran tertinggi (HET) Rp 9.450/kg.

Sementara harga beras asalan (glosoran) di tingkat penggilingan saat ini sekitar Rp 8.600/kg dengan kadar air di atas 14 persen dan kadar butir pecah sekitar 30 persen.

Apabila harga di tingkat penggilingan tersebut dikonversikan ke kualitas pengadaan sesuai spesifikasi Inpres No 5/2015, yakni kadar air maksimal 14 persen dan butir patah 20 persen, harganya minimal Rp 9.600/kg.

Ini mengindikasikan bahwa persediaan beras di masyarakat dalam keadaan tipis. Memang pada bulan November masih ditunjang oleh panen kecil-kecilan di sejumlah tempat, ditambah persediaan yang ada di tangan masyarakat. Namun, pada Desember 2017 dan Januari 2018 akan terjadi masa puncak paceklik.

Pengalaman akhir 2014 yang kondisi pasar mirip 2017, untuk menunjang persediaan masyarakat, alokasi beras untuk masyarakat miskin (raskin) ditambah dua bulan atau sekitar 600.000 ton.

Apabila keadaan ini jadi acuan, untuk akhir 2017 diperlukan tambahan pasokan ke masyarakat sekitar 600.000 ton.

Selain itu, juga masih perlu diantisipasi puncak paceklik pada Januari dan awal Februari 2018 yang masih memerlukan operasi pasar (OP) kira-kira 400.000 ton untuk mengganti raskin yang sekarang diberikan dalam bentuk kupon.

Perkiraan jumlah operasi pasar merupakan hal tersulit sejak BULOG berdiri, tetapi sebaiknya disiapkan programnya daripada nanti kebobolan karena banyak faktor yang memengaruhi.

Kemudian sistem pengendalian harga beras 2014 dan 2017 sebenarnya mirip, tetapi saat ini cara intervensinya berbeda dari yang lalu.

Dulu pemerintah secara aktif menambah persediaan melalui alokasi raskin, tetapi sekarang melalui OP atas dasar permintaan pedagang.

Kita tahu intervensi melalui pedagang efektivitasnya lebih rendah dibandingkan dengan melalui rumah tangga langsung karena pedagang merupakan ”pemain” yang akan berhitung untung rugi.

Oleh karena itu, mekanisme OP yang sekarang berlaku disarankan perlu ditambah OP targeted group, yakni operasi pasar bekerja sama dengan pemerintah daerah melalui kelurahan. Pembelinya cukup menunjukkan KTP seperti yang pernah dilakukan di Yogyakarta.

Keberhasilan intervensi pasar akhir 2017 dan awal 2018 akan sangat memengaruhi tingkat harga yang terjadi pada panen yang akan datang.

Untuk itu, diperlukan OP sekitar 1 juta ton untuk dapat menekan harga agar mendekati HET yang ditetapkan pemerintah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*