Tuntutan Kreativitas BULOG Jaga Harga Beras

Beberapa hari yang lalu, banyak diberitakan mengenai Presiden Joko Widodo yang memanggil menteri-menteri bidang ekonomi dan juga Direktur Utama Badan Urusan Logistik.

Pangkal soalnya adalah, Presiden menanyakan tentang harga beras di pasar yang naik belakangan ini.

Kabar itu sendiri dibenarkan oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, yang menyatakan bahwa Presiden memang mengajak para pembantunya itu ‘ngobrol’ tentang harga beras.

Darmin sendiri mengakui, harga beras memang naik. Di Bulan Desember ini, harga beras medium naik 0,4% atau sekitar Rp 45 per kilogram, begitu juga dengan harga beras premium yang naik 0,04%.

Padahal, stok beras di Bulog masih sangat banyak, sekitar tiga juta ton. Hal ini tentu membuat Presiden penasaran terkait pelaksanaan operasi pasar pada Bulog.

Bahkan operasi pasar Bulog dianggap jauh dari target yang sudah dirancang di Rapat koordinasi terbatas (Rakortas). Dari 15.000 ton per hari, hanya tercapai 2.000 – 5.000 ton.

Darmin mengungkapkan, setidaknya terdapat dua alasan penyebab tidak optimalnya operasi pasar Bulog dan naiknya harga beras.

Baca juga :  Harga Beras Naik, Jokowi Perintahkan Bulog Operasi Pasar

Meski dilakukan hampir tiap hari, operasi pasar oleh Bulog tidak berdampak signifikan untuk mengerem harga beras.

Penyebabnya adalah, banyaknya pilihan merek beras yang ditawarkan pada masyarakat, sehingga masyarakat tidak selalu membeli beras Bulog. Padahal, kualitas beras Bulog tidak perlu diragukan lagi. Beras kualitas premium, dijual dengan harga medium.

Alasan berikutnya adalah, banyak pedagang beras yang ingin meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Sehingga mereka memilih menjual beras merek lain, yang bukan beras dari Bulog.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*